Pages

Jumat, 30 September 2011

JAYA ANGGADA

Wayang Kulit Anggada gagrak Jogjakarta, diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/



Wayang Kulit Anggada gaya Surakarta, diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/



Wayang golek Anggada, diambil dari http://www.id.wikipedia.org



Gambar wayang golek Anggada diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/




Jaya Anggada
Anggada adalah kera berbulu merah.Ia anak tunggal Resi Subali,raja kera dari Guwakiskenda.Ibunya adalah seorang bidadari bernama Dewi Tara.Ketika masih bayi,ayahnya tewas dipanah Rama pada saat berkelahi melawan Sugriwa.Mereka berkelahi memperebutkan Dewi Tara,sekaligus tahta kerajaan Guwakiskenda.
Setelah ayahnya tewas,ibunya kawin dengan Sugriwa.Anggada tetap diasuh dan dibesarkan dengan kasih sayang oleh Sugriwa,adik ayahnya.Walaupun masih muda,Anggada diangkat oleh Sugriwa sebagai salah satu senapati perang pada waktu membantu Rama dari kerajaan Ayodya melawan Rahwana dari kerajaan Alengka.
Anggada kemudian ditugasi sebagai duta Rama untuk menjajagi kekuatan Alengka sekaligus memberikan ultimatum.Setelah bertemu dengan Rahwana,Anggada malah menjadi terhasut oleh hasutan Rahwana yang mengatakan sebenarnya dia itu anak Resi Subali yang dibunuh oleh Prabu Rama pada waktu membela Sugriwa,pamannya sendiri.Dan ibunya,Dewi Tara adalah adik Dewi Tari,istrinya.
Hasutan Dasamuka ini berhasil mempengaruhi pendirian Anggada.Dengan dada penuh dendam,Anggada mengamuk di markas pasukan Rama di Suwelagiri,mengancam Rama dan Sugriwa.Oleh Anoman dan Sugriwa,Anggada berhasil diringkus dan disadarkan bahwa Rama membunuh Subali semata-mata hanyalah mengemban tugas dari Dewa.Karena Subali dinilai bersalah telah mengajarkan Rahwana,ilmu Aji Pancasona yang digunakan oleh Rahwana untuk berbuat angkara murka.Akhirnya Anggada menjadi insyaf dan menjadi sadar kembali.
Atas jasa-jasanya yang telah membantu Rama dalam penyerbuannya ke Alengka,termasuk berhasil membunuh Aswani Kumba,putera Kumbakarna.Anggada mendapat nama tambahan yaitu Jaya Anggada.(Artikel inidiambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/).
Baca Selengkapnya - JAYA ANGGADA

Kamis, 29 September 2011

PERBEDAAN SECARA SPESIFIK WAYANG KAPI YOGYAKARTA DAN SURAKARTA

Jaya Anggada gaya Yogyakarta dan Surakarta, diambil dari http://rhutami.files.wordpress.com/2010/01/anggada2.jpg



Kapi Celeng gaya Yogyakarta, diambil dari http://rhutami.files.wordpress.com/2010/01/celeng2.jpg



Kapi Celeng gaya Surakarta, diambil dari http://rhutami.files.wordpress.com/2010/01/celeng.jpg



Kapi Cocak Rawun gaya Yogyakarta, diambil dari http://rhutami.files.wordpress.com/2010/01/cocakrawun.jpg



Kapi Satabali gaya Yogyakarta, diambil dari http://rhutami.files.wordpress.com/2010/01/satabali.jpg



Kapi Susena gaya Yogyakarta, diambil dari http://rhutami.files.wordpress.com/2010/01/susena.jpg



Anoman gaya Yogyakarta dan Surakarta, diambil dari http://www.facebook.com/note.php?note_id=291729106109




PERBEDAAN SECARA SPESIFIK WAYANG KAPI YOGYAKARTA DAN SURAKARTA

Sesungguhnya transformasi bentuk gaya dari gaya Mataraman ke gaya Surakarta terletak pada beberapa aspek besar jika di pilah-pilah. Diantaranya adalah wayang kera. Pada gambar wayang-wayang Anoman ini tampak jelas perubahannya dari bentuk wayang bermata dua ke wayang bermata satu. Hal lain yang dapat di cermati adalah wayang Anoman gaya Yogyakarta terkesan lebih menunduk dengan pundak bagian belakang yang lebih naik ke atas sedang wayang Anoman gaya Surakarta yang terlihat lebih mendongak namun pundak belakangnya terlihat datar sehingga gelung sapit urangnya terlihat lebih tinggi. Hal lain yang sering kita jumpai adalah adanya kalung atau ulur-ulur yang sering kita jumpai pada wayang-wayang Anoman dari Surakarta, sedangkan dari Yogyakarta terlihat lebih sederhana dan sangat jarang di jumpai wayang Anoman dengan kalung ataupun ulur-ulur. Kendati demikian, permasalahan kalung dan ulu-ulur bukanlah sebuah hal yang signifikan dalam perbandingan kedua jenis wayang Anoman ini mengingat kalung hanyalah perlengkapan yang dapat ditambahkan pada tiap wayang sesuai dengan kehendak pembuatnya.



Pada wayang Jaya Anggada juga terlihat perbedaan yang sama pada wayang Anoman seperti transformasi jumlah mata dan juga perbedaan bentuk moncong dari wayang-wayang kera ini. Wayang Yogyakarta memiliki bentuk moncong yang agak bulat pada bagian depannya sedang pada wayang Surakarta, moncong dari wayang-wayang keranya berbentuk lebih tajam atau lancip.



Meskipun bentuk moncong kera yang ada memang merupakan suatu perbedaan yang dapat terlihat jelas, namun hal tersebut tidak dapat dijadikan sebuah patokan yang pasti. Lihat saja wayang Kapi Susena dari Yogyakarta, di sana tampak bahwa Yogyakarta pun memiliki wayang kera dengan moncong agak lancip yang mendekati bentuk wayang kera gaya Surakarta, hanya saja perbedaan yang terlihat adalah jumlah mata dari wayang Kapi Susena yang masih merupakan bentuk umum dari pewayangan gaya Yogyakarta yaitu dua buah mata. Hal ini disebabkan oleh banyaknya jumlah wayang kera yang tercatat di pedalangan sehingga seniman wayang kulit pun harus lebih kreatif dalam menciptakan bentuk wayang yang baru. Dan hal tersebut tampak pada wayang Kapi Susena ini.



Dalam kisah ramayana yang disesuaikan dengan versi jawa atau pedalangan terdapat ratusan wayang kera namun hanya puluhan yang terealisasi dalam bentuk wayang secara real. Di antara puluhan wayang yang ada itu terdapat wayang kera biasa dan ada pula yang berkepala binatang. Di sini akan ditunjukkan dua tokoh wayang berkepala binatang setelah kita membahas bentuk wayang kera biasa di atas.



Wayang kapi satabali adalah contoh dari wayang kera dengan kepala hewan yaitu ayam. Jika kita lihat , sesungguhnya tidak ada perbedaan dari wayang kera gaya Yogyakarta biasa dalam hal tubuh. Perbedaannya hanya terletak pada perbedaan bentuk wajah, dimana dalam gambar tersebut, Kapi Satabali menggunakan kepala ayam jago.
Wayang Satabali adalah wayang yang menunjukkan bentuk Yogyakarta yang masih dapat diidentifikasikan dari jumlah mata, namun wayang kera gaya Yogyakarta juga memiliki bentuk wayang kera dengan mata satu. Contohnya adalah wayang Kapi Cocak Rawun..



Sekarang menjadi agak sulit bagi kita dalam mengidentifikasikan wayang-wayang seperti ini karena jumlah mata dari wayang ini hanya satu dan tidak seperti wayang kera Yogyakarta lainnya. Hal yang perlu kita lakukan dalam pengidentifikasian jenis wayang yang kurang jelas seperti ini adalah membandingkan bentuk tubuh dan juga panjang tangan. Wayang gaya Yogyakarta cenderung memiliki tangan yang lebih panjang daripada wayang gaya Surakarta. Hal ini dapat pula dilihat pada wayang-wayang yang lain. (Artikel ini disadur dari Wayang Nusantara (Indonesian Shadow Puppets) pada 01 Februari 2010 jam 8:03: http://www.facebook.com/note.php?note_id=291729106109).





Baca Selengkapnya - PERBEDAAN SECARA SPESIFIK WAYANG KAPI YOGYAKARTA DAN SURAKARTA

Rabu, 28 September 2011

KISAH ANOMAN

Grafis Wayang Anoman Gagrak Surakarta, gambar diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/

Anoman adalah kera berbulu putih,ibunya adalah Dewi Anjani,sedangkan ayahnya adalah Batara Guru.Pada saat Ramawijaya mengerahkan bala tentara kera menyerbu Kerajaan Alengka untuk membebaskan Dewi Sinta yang diculik Dasamuka,Anoman bertindak sebagai salah satu senapatinya.Batara Guru memerintahkan Batara Bayu untuk mengasuhnya.Itulah sebabnya Anoman juga diberi nama Bayusuta atau Bayutanaya,Maruti atau Marutasuta.

Grafis Wayang Anoman Gagrak Jogjakarta, diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/

Sebagai putera angkat atau anak asuh Batara Bayu,Anoman mengenakan kain Poleng Bang Bintulu Aji dan berkuku Pancanaka.Dalam pewayangan ada sembilan tokoh yang merupakan �saudara tunggal Bayu�.Mereka adalah Anoman,Bima,Wil Jajahwreka,Begawan Maenaka,Liman Situbanda,Dewa Ruci,Garuda Mahambira,dan Naga Kuwara.

Wayang Kulit Anoman gaya Surakarta, diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/

Anoman setelah dewasa,diperintahkan Batara Guru turun ke dunia untuk mengabdi pada Ramawijaya yang merupakan titisan Batara Wisnu.Anoman menjumpai Rama dan Laksmana ketika kedua ksatria itu sedang dalam perjalanan menuju kerajaan Alengka.

Wayang Kulit Anoman gagrak Jogjakarta, gambar ini diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/

Saat itu Anoman sedang diperintah Sugriwa,raja Guwakiskenda mencari bantuan untuk mengalahkan Subali.Setelah Ramawijaya membunuh Resi Subali,Sugriwa bersedia membantu usaha Rama membebaskan Dewi Sinta dengan mengerahkan bala tentara keranya.

Wayang Kulit Anoman gaya Surakarta, diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/

Pada waktu Dewi Sinta disekap di taman Argasoka,Alengka,Ramawijaya mengutus Anoman untuk menemui istrinya secara diam-diam.Anoman berhasil menyelundup masuk dan bertemu muka serta menyampaikan pesan Ramawijaya kepada Dewi Sinta.

Wayang Kulit Anoman gagrak Cirebon, diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/

Sesudah menunaikan tugasnya,Anoman kemudian membuat huru-hara di Alengka.Dasamuka kemudian memerintahkan Indrajit,anaknya untuk menangkap Anoman.Dengan panah Nagapasa yang berubah menjadi ribuan ular yang melilitnya,Anoman berhasil diringkus.

Wayang Kulit Anoman triwikrama, gambar diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/

Wayang Kulit Anoman triwikrama, diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/

Dalam keadaan terikat Anoman lalu dibakar hidup-hidup.Tetapi justru dengan bulunya yang terbakar itulah,Anoman berhasil meloloskan diri sambil membakar istana Alengka.

Wayang Golek Purwa Sunda Anoman, diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/

Pada waktu terjadi penyerbuan ke Alengka,Anoman bertindak sebagai salah satu senapatinya dan berhasil menindih tubuh Prabu Dasamuka dengan gunung karena Raja Alengka itu selalu dapat hidup kembali setelah terkena panah Ramawijaya.

Gambar Tokoh Hanuman versi India, diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/

Dengan Dewi Sayempraba,Anoman mempunyai anak berujud kera juga yang diberi nama Trigangga atau Triyangga.Sedangkan dengan Dewi Purwati mempunyai anak bernama Purwaganti.
Wayang Kulit Anjila Kencana dan Anoman gagrak Jawa Timuran, diambil dari http://teguhsrahardjo.blogdetik.com/wayang/


Anoman tua kemudian tinggal di pertapaan Kendalisada,dan menjadi pertapa bernama Begawan Mayangkara.Anoman memang ditakdirkan berumur panjang,karena mendapat tugas dari para Dewa untuk menjaga Prabu Dasamuka.Raja Alengka ini tidak dapat mati karena memiliki aji Pancasona yang diwarisinya dari Resi Subali.Karena setiap kali mati,dan tubuhnya menyentuh bumi,ia akan hidup kembali.
(Artikel ini diambil dari
Baca Selengkapnya - KISAH ANOMAN

Selasa, 27 September 2011

HANOMAN OBONG

Bentuk wayang kulit Anoman, diambil dari http://www.murnis.com/articles_by_murni/shadow_puppets.html



Cerita tentang Anoman Obong, diambil dari http://www.kellik.4t.com/photo.htm

l

Anoman Obong, diambil dari http://www.kellik.4t.com/photo.html



Lukisan Pembakaran Hanoman, diambil dari http://www.kellik.4t.com/photo.html



Gambar Hanoman versi Thailand, diambil dari http://ramaayana.wordpress.com/tokoh-ramayana/hanoman/




Hanoman Obong

Hanoman, lahir pada masa Tretayuga sebagai putera Anjani, seekor wanara wanita. Dahulu Anjani sebetulnya merupakan bidadari, bernama Punjikastala. Namun karena suatu kutukan, ia terlahir ke dunia sebagai wanara wanita. Kutukan tersebut bisa berakhir apabila ia melahirkan seorang putera yang merupakan penitisan Siwa. Anjani menikah dengan Kesari, seekor wanara perkasa. Bersama dengan Kesari, Anjani melakukan tapa ke hadapan Siwa agar Siwa bersedia menjelma sebagi putera mereka. Karena Siwa terkesan dengan pemujaan yang dilakukan oleh Anjani dan Kesari, ia mengabulkan permohonan mereka dengan turun ke dunia sebagai Hanoman.
Salah satu versi menceritakan bahwa ketika Anjani bertapa memuja Siwa, di tempat lain, Raja Dasarata melakukan Putrakama Yadnya untuk memperoleh keturunan. Hasilnya, ia menerima beberapa makanan untuk dibagikan kepada tiga istrinya, yang di kemudian hari melahirkan Rama, Laksmana, Bharata dan Satrugna. Atas kehendak dewata, seekor burung merenggut sepotong makanan tersebut, dan menjatuhkannya di atas hutan dimana Anjani sedang bertapa. Bayu, Sang dewa angin, mengantarkan makanan tersebut agar jatuh di tangan Anjani. Anjani memakan makanan tersebut, lalu lahirlah Hanoman.
Salah satu versi mengatakan bahwa Hanoman lahir secara tidak sengaja karena hubungan antara Bayu dan Anjani. Diceritakan bahwa pada suatu hari, Dewa Bayu melihat kecantikan Anjani, kemudian ia memeluknya. Anjani marah karena merasa dilecehkan. Namun Dewa Bayu menjawab bahwa Anjani tidak akan ternoda oleh sentuhan Bayu. Ia memeluk Anjani bukan di badannya, namun di dalam hatinya. Bayu juga berkata bahwa kelak Anjani akan melahirkan seorang putera yang kekuatannya setara dengan Bayu dan paling cerdas di antara para wanara.
Sebagai putera Anjani, Hanoman dipanggil Anjaneya (diucapkan �Aanjan�ya�), yang secara harfiah berarti �lahir dari Anjani� atau �putera Anjani�.
Masa kecil
Pada saat Hanoman masih kecil, ia mengira matahari adalah buah yang bisa dimakan, kemudian terbang ke arahnya dan hendak memakannya. Dewa Indra melihat hal itu dan menjadi cemas dengan keselamatan matahari. Untuk mengantisipasinya, ia melemparkan petirnya ke arah Hanoman sehingga kera kecil itu jatuh dan menabrak gunung. Melihat hal itu, Dewa Bayu menjadi marah dan berdiam diri. Akibat tindakannya, semua makhluk di bumi menjadi lemas. Para Dewa pun memohon kepada Bayu agar menyingkirkan kemarahannya. Dewa Bayu menghentikan kemarahannya dan Hanoman diberi hadiah melimpah ruah. Dewa Brahma dan Dewa Indra memberi anugerah bahwa Hanoman akan kebal dari segala senjata, serta kematian akan datang hanya dengan kehendaknya sendiri. Maka dari itu, Hanoman menjadi makhluk yang abadi atau Chiranjiwin.
Pertemuan dengan Rama
Patung Hanoman yang dibuat pada masa Dinasti Chola, abad ke-11.
Pada saat melihat Rama dan Laksmana datang ke Kiskenda, Sugriwa merasa cemas. Ia berpikir bahwa mereka adalah utusan Subali yang dikirim untuk membunuh Sugriwa. Kemudian Sugriwa memanggil prajurit andalannya, Hanoman, untuk menyelidiki maksud kedatangan dua orang tersebut. Hanoman menerima tugas tersebut kemudian ia menyamar menjadi brahmana dan mendekati Rama dan Laksmana.
Saat bertemu dengan Rama dan Laksmana, Hanoman merasakan ketenangan. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda permusuhan dari kedua pemuda itu. Rama dan Laksmana juga terkesan dengan etika Hanoman. Kemudian mereka bercakap-cakap dengan bebas. Mereka menceritakan riwayat hidupnya masing-masing. Rama juga menceritakan keinginannya untuk menemui Sugriwa. Karena tidak curiga lagi kepada Rama dan Laksmana, Hanoman kembali ke wujud asalnya dan mengantar Rama dan Laksmana menemui Sugriwa.
Petualangan mencari Sita
Dalam misi membantu Rama mencari Sita, Sugriwa mengutus pasukan wanara-nya agar pergi ke seluruh pelosok bumi untuk mencari tanda-tanda keberadaan Sita, dan membawanya ke hadapan Rama kalau mampu. Pasukan wanara yang dikerahkan Sugriwa dipimpin oleh Hanoman, Anggada, Nila, Jembawan, dan lain-lain. Mereka menempuh perjalanan berhari-hari dan menelusuri sebuah gua, kemudian tersesat dan menemukan kota yang berdiri megah di dalamnya. Atas keterangan Swayampraba yang tinggal di sana, kota tersebut dibangun oleh arsitek Mayasura dan sekarang sepi karena Maya pergi ke alam para Dewa. Lalu Hanoman menceritakan maksud perjalanannya dengan panjang lebar kepada Swayampraba. Atas bantuan Swayampraba yang sakti, Hanoman dan wanara lainnya lenyap dari gua dan berada di sebuah pantai dalam sekejap.
Di pantai tersebut, Hanoman dan wanara lainnya bertemu dengan Sempati, burung raksasa yang tidak bersayap. Ia duduk sendirian di pantai tersebut sambil menunggu bangkai hewan untuk dimakan. Karena ia mendengar percakapan para wanara mengenai Sita dan kematian Jatayu, Sempati menjadi sedih dan meminta agar para wanara menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Anggada menceritakan dengan panjang lebar kemudian meminta bantuan Sempati. Atas keterangan Sempati, para wanara tahu bahwa Sita ditawan di sebuah istana yang teretak di Kerajaan Alengka. Kerajaan tersebut diperintah oleh raja raksasa bernama Rahwana. Para wanara berterima kasih setelah menerima keterangan Sempati, kemudian mereka memikirkan cara agar sampai di Alengka.
Pergi ke Alengka
Ukiran tanah liat yang menggambarkan Hanoman sedang mengangkat Gunung Dronagiri.
Karena bujukan para wanara, Hanoman teringat akan kekuatannya dan terbang menyeberangi lautan agar sampai di Alengka. Setelah ia menginjakkan kakinya di sana, ia menyamar menjadi monyet kecil dan mencari-cari Sita. Ia melihat Alengka sebagai benteng pertahanan yang kuat sekaligus kota yang dijaga dengan ketat. Ia melihat penduduknya menyanyikan mantra-mantra Weda dan lagu pujian kemenangan kepada Rahwana. Namun tak jarang ada orang-orang bermuka kejam dan buruk dengan senjata lengkap. Kemudian ia datang ke istana Rahwana dan mengamati wanita-wanita cantik yang tak terhitung jumlahnya, namun ia tidak melihat Sita yang sedang merana. Setelah mengamati ke sana-kemari, ia memasuki sebuah taman yang belum pernah diselidikinya. Di sana ia melihat wanita yang tampak sedih dan murung yang diyakininya sebagai Sita.
Kemudian Hanoman melihat Rahwana merayu Sita. Setelah Rahwana gagal dengan rayuannya dan pergi meninggalkan Sita, Hanoman menghampiri Sita dan menceritakan maksud kedatangannya. Mulanya Sita curiga, namun kecurigaan Sita hilang saat Hanoman menyerahkan cincin milik Rama. Hanoman juga menjanjikan bantuan akan segera tiba. Hanoman menyarankan agar Sita terbang bersamanya ke hadapan Rama, namun Sita menolak. Ia mengharapkan Rama datang sebagai ksatria sejati dan datang ke Alengka untuk menyelamatkan dirinya. Kemudian Hanoman mohon restu dan pamit dari hadapan Sita. Sebelum pulang ia memporak-porandakan taman Asoka di istana Rahwana. Ia membunuh ribuan tentara termasuk prajurit pilihan Rahwana seperti Jambumali dan Aksha. Akhirnya ia dapat ditangkap Indrajit dengan senjata Brahma Astra. Senjata itu memilit tubuh hanoman. Namun kesaktian Brahma Astra lenyap saat tentara raksasa menambahkan tali jerami. Indrajit marah bercampur kecewa karena Brahma Astra bisa dilepaskan Hanoman kapan saja, namun Hanoman belum bereaksi karena menunggu saat yang tepat.
Terbakarnya Alengka
Ketika Rahwana hendak memberikan hukuman mati kepada Hanoman, Wibisana membela Hanoman agar hukumannya diringankan, mengingat Hanoman adalah seorang utusan. Kemudian Rahwana menjatuhkan hukuman agar ekor Hanoman dibakar. Melihat hal itu, Sita berdo�a agar api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Karena do�a Sita kepada Dewa Agni terkabul, api yang membakar ekor Hanoman menjadi sejuk. Lalu ia memberontak dan melepaskan Brahma Astra yang mengikat dirinya. Dengan ekor menyala-nyala seperti obor, ia membakar kota Alengka. Kota Alengka pun menjadi lautan api. Setelah menimbulkan kebakaran besar, ia menceburkan diri ke laut agar api di ekornya padam. Penghuni surga memuji keberanian Hanoman dan berkata bahwa selain kediaman Sita, kota Alengka dilalap api.
Dengan membawa kabar gembira, Hanoman menghadap Rama dan menceritakan keadaan Sita. Setelah itu, Rama menyiapkan pasukan wanara untuk menggempur Alengka.
Melawan Alengka
Pertama-tama Hanoman menyusup ke istana Alengka untuk menyelidiki kekuatan Rahwana dan menyaksikan keadaan Sita. Di sana ia membuat kekacauan sehingga tertangkap dan dihukum bakar. Sebaliknya, Hanoman justru berhasil membakar sebagian ibu kota Alengka. Peristiwa tersebut terkenal dengan sebutan Hanoman Obong. Setelah Hanoman kembali ke tempat Rama, pasukan kera pun berangkat menyerbu Alengka. Hanoman tampil sebagai pahlawan yang banyak membunuh pasukan Alengka, misalnya Surpanaka (Sarpakenaka) adik Rahwana.
Sumber: Wikipedia


Baca Selengkapnya - HANOMAN OBONG

Senin, 26 September 2011

ANOMAN DUTA

Lukisan Hanoman Duta karya IB. Setiawan, diambil dari http://batuanpainting.com/setiawanhanomanduta.htm

Sayempraba, Gambar wayang ini diambil dari http://wayanganomanduta.blogspot.com/2010/01/wayang-wayang.html

Sinta dan Trijata di taman Asoka, diambil dari http://wayanganomanduta.blogspot.com/2010/01/wayang-wayang.html

Anoman Duta
Prabu Rama akhirnya memerintahkan kepada Anoman untuk melakukan perjalanan kenegeri Alengka. Hal ini dilakukan oleh Prabu Rama mengingat berita yang simpang siur tentang keberadaan Dewi Sinta.Pertimbangan itu diambil karena Anoman memiliki kesaktian yang cukup tinggi. Sehingga apabila menghadapi musuh yang ditemuinya nanti dalam perjalanan, akan dapat diselesaikan dengan baik. Terlebih-lebih pula Anoman dapat terbang keangkasa, sehingga Prabu Rama dapat memperkirakan, perjalanan Anoman akan lebih cepat dari pada para senapati lainnya. yang lewat daratan. Apalagi perjalanan ini akan melewati samudera, dan merupakan tugas pertama menuju Alengka

Anoman berpamitan kepada Prabu Rama,untuk segera melaksanakan tugas. Namun kemudian datanglah Anggada menghadap Prabu Rama. Anggada minta Prabu Rama untuk membatalkan niatnya untuk mengutus Anoman ke Alengka. Akhirnya Anoman dan Anggada berkelahi memperebutkan tugas ke Alangka. Prabu Rama melerai keduanya agar tidak berkelahi.

Keduanya didudukkan bersama. Prabu Rama menguji kelebihan masing-masing. Prabu Rama menanyakan pada Anoman berapa lama waktu perjalanan yang ditempuh dalam melakukan tugas. Anoman menyangggupi 10 hari. Diperkirakan oleh Anoman, Kerajaan Alengka jauh letaknya, disamping itu ada kemungkinan dalam perjalanan nanti akan menghadapi mata-mata Prabu Dasamuka, yang pasti akan menghambat perjalanan berikutnya. Sedangkan Anggada menyanggupi 7 hari. Kemudian keduanya tawar menawar. Anoman menyanggupi 5 hari parjalanan menuju Alengka. Anggada tidak mau mengalah, ia menyanggupi 3 hari perjalanan menuju Alengka. Anoman akhirnya menyanggupi 1 hari. Kemudian Prabu Rama menunjuk Anoman untuk berangkat ke Alengka. Perjalanannya menuju Alengka disertai Para Punakawan, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong..

Untuk memudahkan perjalanan, para punakawan dimasukkan dalam kancing gelung Anoman. Dari penulis menginginkan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bisa terbang, mengikuti Anoman yang sedang terbang dalam perjalanannya ke Alengka, namun karena tidak lazim, ada Semar, Gareng, Petruk dan Bagong bisa terbang, maka mereka saya masukkan saja dalam kancing gelung Anoman. Mereka sebenarnya bisa terbang, karena Semar adalah jelmaan Dewa, Gareng dan Petruk adalah gandarwa sedangkan Bagong adalah bayangan Semar.

Pada hari pertama perjalanannya, Anoman pergi ke kahyangan, menemui Batara Surya . Dimintanya Batara Surya mau mengikat matahari supaya tidak bergeser ke Barat. Batara Surya keberatan,dan tidak bisa menyanggupi kemauan Anoman. Anoman memaksa Batara Surya untuk memenuhi permintaannya.Maka terjadilah perkelahian antara keduanya. Semar segera melerai perkelahian mereka. Akhirnya Semar sendiri yang minta agar Batara Surya mau menuruti kehendak Anomann. Akhirnya.Batara Surya memenuhi keinginan Anoman, mengingat Semar adalah Sanghyang Ismaya adalah ayahanda Batara Surya sendiri,.Anoman meminta Batara Surya tidak melepaskan matahari sampai Anoman kembali ke Pancawati.. Batara Surya menuruti permintaan Anoman. Batara Surya mengikat matahari yang posisinya masih diatas kepala, sehingga negeri Pancawati akan mengalami siang yang berke panjang an selama Anoman dalam perjalanan.

Ditengah perjalanan di angkasa menuju Alengka, Anoman kehilangan arah. Anoman sudah berada diatas lautan Hindia. Laut luas membiru. Anoman terkejut merasa ada kekuatan besar yang menyedot tubuhnya, Tiba-tiba saja tubuh Anoman tertarik kebawah dan masuk dalam perut raksasa.Raksasa itu Wil Kataksini, yang bertugas menjaga lautan Alengka. Tubuh Anoman tidak berdaya dan berusaha keluar dari mulut raksasa Wil Kataksini.

Anoman dengan sekuat tenaga menendang-nendang dan mencakar-cakar dalam perut Wil Kataksini. Kataksini merasa dalam perutnya perih dan geli. Anoman yang ada dalam perut itu di muntahkan kembali keluar mulutnya. Setelah itu tubuh Wil Kataksini menjadi limbung, dan roboh, Wil Kataksini tewas.

Sementara itu tubuh Anoman bagaikan dibanting, Anoman jatuh terpelanting di daerah pegunungan. Anoman memperkira kan daerah Suwelagiri, sangat cocok untuk menghimpun pasukan dan menyusun pertahanan Prabu Rama dalam penyerangan ke istana Alengka atau tempat unntuk memata-matai Prajurit Alengka.

Anoman sudah tidak bisa terbang lagi. Ia melanjutkan perjalanan lewat daratan dengan tertatih-tatih. Setelah berjalan begitu lama, Anoman tidak kuat lagi. Ia jatuh pingsan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, segera keluar dari kancing gelung Anoman. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong membawa Anoman ketempat berlindung.

Tidak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah goa, yaitu Goa Windu tempat bersemayamnya seorang pertapa wanita bernama Dewi Sayempraba. Dewi Sayempraba adalah mantan istri Prabu Dasamuka. Ia seorang bidadari. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang memapah Anoman sudah sampai dihadapan Dewi Sayempraba. Dewi Sayempraba segera menyambut kedatangan para tamunya. Setelah beberapa hari dirawat di dalam goa, Anoman sadar dari pingsannya. Ia terkejut ketika mengetahui dirinya berada di dalam istana yang megah, Anoman kagum ternyata di dalam goa terdapat istana yang megah dan indah. Ia pun melihat ada seorang dewi cantik berada dihadapannya. Anoman tertarik kecantikan Dewi Sayempraba. Selama dalam perawatan Dewi Sayempraba Anoman tidak tahu apa yang dilakukan pada dirinya.

Kelihatannya Anoman terpedaya dengan kecantikan dewi Sayempraba. Anoman dan para punakawan dijamu dengan makanan yang lezat dan minuman yang menyegarkan. Anoman dan para punakawan makan dengan lahapnya.Anoman memang lapar. Sudah lama ia pingsan jadi sudah beberapa hari tidak makan. Selesai makan minum, Anoman berpamitan mau melanjutkan perjalanan menuju Alengka. Dewi Sayempraba menghalangi Anoman, agar tidak meninggalkan Goa Windu. Sayempraba menghendaki agar Anoman bersedia memperistrinya. Anoman menolak ajakan dewi Sayempraba. Kemudian Anoman segera mengajak para punakawan meninggalkan istana Sayempraba.

Sepeninggal Anoman, Dewi Sayempraba gundah gulana. Ia kecewa Anoman tidak menanggapi cintanya. Padahal Dewi Sayempraba sangat mencintainya. Namun Dewi Sayempraba percaya, kalau Anoman akan kembali ke Goa Windu pada suatu saat.

Setelah beberapa lama berjalan meninggalkn goa. Tiba-tiba kedua mata Anoman seakan akan melihat seberkas cahaya yang sangat menyilaukan. Kemudian pandangan menjadi gelap, Anoman menjadi buta Anoman menjadi sedih, Ia merasa gagal melak sanakan tugas dari Prabu Rama. Para panakawan memapah Anoman dan mencarikan orang yang dapat mengobati sakitnya.

Anoman kelihatannya masih beruntung, agaknya tangisannya didengar oleh seekor burung garuda, yang bernama Sempati. Sempati mencoba mengobati Anoman. Sebelumnya Burung Sempati memohon dewa agar dapat menyembuhkan mata Anoman. Sempati mengobati kedua mata Anoman dengan meneteskan air liur dari paruhnya. Permohonan burung Sempati kepada dewa, agaknya dikabulkan Dewa, Anoman sembuh. Anoman sudah tidak buta lagi. Burung Sempati menceriterakan saudaranya, Burung Jatayu, yang tewas ketika melawan Prabu Dasamuka. Burung Jatayu sebenarnya mau menyelamatkan Dewi Sinta yang diculik Prabu Dasamuka. Namun Jatayu gagal membawa Dewi Sinta ke Ayodya, karena Prabu Dasamuka, membabat kedua sayapnya dan lehernya dari belakang, sehinga burung Jatayu jatuh ke bumi.Sedangkan Dewi Sinta dapat direbut kembali oleh Prabu Dasamuka dan dibawa ke negerinya, Alengka. Beberapa saat kemudian, Jatayu pun tewas. Anoman mendengar cerita Burung Sempati menjadi semakin yakin, bahwa yang menculik Dewi Sinta adalah Prabu Dasamuka. Anoman dan para Punakawan mengucapkan terima kasih pada burung Sempati karena telah menyembuhkan Anoman dari kebutaannya. Anoman dan para Punakawan berpamitan kepada burung Sempati, untuk meneruskan perjalanannya ke negeri Alengka Oleh Anoman para Punakawan dimasukkan kembali dalam kancing gelungnya. Kemudian Anoman melesat jauh keangkasa menuju Istana Alengka. Perjalanan Anoman ke istana Alengka dirasa tidak terlalu lama lagi. Setelah beberapa saat kemudian sampailah Anoman ke Istana Alengka.
Indrajid anak Prabu Dasamuka yang sedang berjaga di luar Istana melihat sekelebatan makhluk asing yang berlalu dihadapannya. Indrajid penasaran, ia segera mencari keseluruh penjuru Istana. Anoman sekarang sudah berada di taman Asoka. Ia bersembunyi diatas pohon Nagasari yang rimbun daunnya.

Sementara itu di Kaputren taman Asoka, Prabu Dasamuka merasa kecewa, karena dewi Sinta belum mau diboyong ke dalam Istana. Prabu Dasamuka berniat memaksa dewi Sinta untuk melayani dirinya. Namun niat Prabu Dasamuka dapat diurungkan oleh Dewi Trijatha anak Wibisana, adik Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka meninggalkan taman Asoka dengan kecewa.

Untuk menghilangkan gundah hati Dewi Sinta, Dewi Trijatha mengajak Dewi Sinta ke taman bunga yang letaknya dekat pohon Nagasari, dimana tempat Anoman bersembunyi. Anoman segera meloncat dari pohon. Kedua wanita itu menjadi terkejut, ketika melihat makhluk asing didepannya. Anoman memperkenalkan diri bahwa ia utusan Prabu Rama. Anoman menyampaikan pesan Prabu Rama agar Dewi Sinta bersabar menunggu kedatangan Prabu Rama untuk menjemputnya. Anoman menawarkan jasa, apabila Dewi Sinta menghendaki Anoman akan membawa pulang ketempat Prabu Rama.

Anoman memberikan cincin dari Prabu Rama kepada Dewi Sinta. Dewi Sinta menerima pemberian cincin dari Prabu Rama, dan dipakai dijari manisnya. Namun sayang cincin itu menjadi kebesaran, karena Dewi Sinta menjadi kurus kering, setelah tinggal di Alengka. Dewi Sinta menitipkan sebuah sisir yang sudah lama tak dipakai. Karena sejak di Alengka Dewi Sinta sudah tidak mau menyisir rambut dan merawat dirinya. Kelihatannya badan Dewi Sinta menjadi rusak. Dewi Sinta merasa tersiksa di negeri orang, jauh dari Prabu Rama. Dewi Sinta tidak bersedia dibawa Anoman pulang ke tempat Prabu Rama. Dewi Sinta menginginkan Prabu Rama sendiri yang menjemput pulang.

Belum selesai mereka saling bicara, Indrajid dan pasukannya telah mengepung taman Asoka. Anoman sengaja tidak memberi perlawanan, agar mereka menangkap dirinya. Anoman bermaksud mengukur kekuatan pertahanan Alengka. Indrajid segera membawa Anoman ke tempat Prabu Dasamuka yang sedang mengadakan pertemuan agung, yang dihadiri Patih Prahasta, adik-adik Prabu Dasamuka, seperti Kumbakarna, Sarpakenaka, Wibisana, para putera Prabu Dasamuka serta raja-raja taklukan Kerajaan Alengka.

Setelah Anoman dibawa masuk ke dalam Istana, Indrajid menghadap Ayahandanya dan melaporkan semua kejadian yang baru terjadi. Mendengar itu muka Prabu Dasamuka menjadi merah padam.Prabu Dasamuka marah bukan kepalang.

Oleh Prabu Dasamuka, Indrajid disuruh mengikat Anoman di depan istana, dan dibakar hidup-hidup.Indrajid berangkat melaksanakan tugas. Anoman digelandang keluar istana dan di ikat di tiang depan istana. Anoman melihat beberapa orang perajurit membawa kayu bakar, dan menumpukkannya di sekeliling Anoman berdiri. Indrajid dan para perajuritnya masuk kembali ke istana, dan melaporkan kesiapannya untuk membakar Anoman .

Sewaktu Indrajid dan perajurit-prajuritnya masuk istana, datanglah Togog, seorang Abdi Kerajaan Alengka jelmaan Sanghyang Antaga mendatangi Anoman. Dibawakannya Anoman sebuah kendi yang berisi air minum yang sejuk dan menyegarkan. Anoman memang sejak tadi merasakan kehausan, karena sejak kedatangannya di negeri Alengka belum minum sama sekali.Anoman segera menerima kendi itu dan meminumnya. Anoman merasakan tubuhnya menjadi segar kembali.
Anoman berterima kasih kepada Togog dan berpesan, agar Togog memasang janur kuning diatap rumahnya.

Tiada lama kemudian Indrajid bersama ayahandanya, Prabu Dasamuka beserta para adik dan putera-putera yang lainnya mendekati Anoman. Wibisana, Adik Prabu Dasamuka meminta kakaknya bisa berbuat bijaksana. Dimintanya Prabu Dasamuka melepaskan Anoman dan menyuruhnya pulang ke Negara asalnya.

Prabu Dasamuka tidak memperdulikan permintaan adiknya. Prabu Dasamuka segera menyuruh Indrajid segera membakar Anoman. Dengan sekali sulut saja, terbakarlah seluruh tumpukan kayu disekeliling Anoman. Anoman kelihatan sudah terbakar dan sekarang yang nampak hanyalah nyala api yang membumbung tinggi. Api semakin membesar dan menjilat-jilat sampai setinggi istana.

Setelah ikatan Anoman terlepas, Anoman terbang dengan membawa api yang menyala ditubuhnya. Api tidak membakar Anoman. Anoman melemparkan api-api itu keseluruh bangunan istana. Istana Alengka terbakar. Penghuninya lari pontang-panting.Seluruh bangunan istana habis terbakar.

Untunglah masih ada satu tempat yang tidak terbakar, yaitu sebuah rumah gubug milik Tejamantri Togog. Prabu Dasamuka dan segenap keluarga dan perangkatnya mengungsi kerumah Togog. Selesai membakar istana Alengka, Anoman pun meninggalkan Alengka kembali ke negeri Pancawati.

Anoman sekarang sudah kembali ke Negara Pancawati. Mataharipun mulai bergeser ke barat.Rupanya Bathara Surya telah mengetahui kepulangan Anoman ke Pancawati, sehingga tali pengikat matahari pun dilepas.

Anoman kemudian menceriterakan semua kejadian yang dialami, khususnya pertemuan dengan Dewi Sinta.Kepada Rama, Anoman menyerahkan titipan Dewi Sinta berupa sisir yang sudah lama tidak dipakainya. Dewi Sinta tidak akan pergi dari Alengka kalau yang menjemput bukan Prabu Rama sendiri. Sehingga ajakan Anoman untuk memboyong Dewi Sintapun ditolak olehnya. Prabu Rama bersedih hati mendengar laporan Anoman, ia terharu mengetahui Dewi Sinta istrinya selalu setya padanya. Prabu Rama berjanji akan segera menyusul Dewi Sinta ke Alengka, untuk memboyongnya pulang kenegeri Ayodya.

Prabu Rama segera bersiap-siap menggelar perang melawan Prabu Dasamuka.Prabu Dasamuka nantinya hanya ada dua pilihan, memilih dengan cara damai yaitu Prabu Dasamuka mengembalikan Dewi Sinta kepada Prabu Rama, ataukah dengan perang.

Untuk membawa pasukan ke negeri Alengka, Prabu Rama merenca nakan membuat jembatan atau menambak air laut sehingga di laut ada jalan yang bisa dilewati pasukan Prabu Rama, mulai dari Pantai Pancawati ke daratan Alengka.***

Artikel ini diambil dari http://wayanganomanduta.blogspot.com/2010/01/wayang-wayang.html.
Baca Selengkapnya - ANOMAN DUTA

Minggu, 25 September 2011

HANOMAN-SAYENGPRABA: CINTA BERTUNAS DI PANGKAL NAGASARI

Ilustrasi tentang Kisah Hanoman-Sayengpraba, diambil dari http://wayangpos.blogspot.com/2010/07/wayang-durangpo-cinta-bertunas-di.html




Hanuman-Sayempraba: Cinta Bertunas di Pangkal Nagasari

Raja Diraja Alengka itu berkuasa dan ditakuti. Kakak tirinya sendiri yang kondang sakti, Prabu Danapati, Raja Lokapala, dibunuhnya pula. Tetap saja Rahwana punya pengapesan. Ayah Indrajit ini salah tingkah berbaur malu setiap menghadapi keponakannya sendiri, seorang perempuan yang ranum di dada dan menawan alisnya.



Dari pohon nagasari di taman Dewi Sinta ditawan, Raden Senggono alias Hanuman mengintip raja penyamun Rahwana main rayuan. Istri Prabu Ramawijaya dari Ayodya itu dicumbunya dengan berbagai nada-nada purba dan syair cinta. Aneka bebungaan ibaratnya telah ditumplek blek di seputar Sinta sampai wanginya semerbak meluap jauh ke luar taman. Begitu ada perempuan yang diintip Hanuman muncul menyajikan hidangan buat Dewi Sinta. Rahwana wajahnya kemerahan, sadar usia, nglentruk meninggalkan Taman Argasoka.



Senggono bahkan sempat mengintip perempuan yang ditakuti Rahwana itu berdebat. Bibirnya yang tipis dan merekah bergetar. Bahkan dari sela dedaunan nagasari Senggono juga sempat mengintai perempuan bermata binar itu memaki-maki Rahwana alias Dasamuka. Dasamuka dihina-dina sebagai lelaki yang bukan saja punya rekening babi, tetapi juga punya tindak-tanduk tak ubahnya babi. Dan bagaimana daya magnit bertambah tatkala mata perempuan itu mendelik, parasnya merah padam dengan kernyitan kening dan perjumpaan kedua alis. Dan Senggono menyaksikan, setelah umpatan-umpatan perempuan itu Rahwana mendadak tunduk, ngacir dari Taman Argasoka.



***



''Juragan kami Rahwana punya empat saudara kandung,'' kata ponokawan Togog kepada Prabancana Siwi, nama lain Hanuman. ''Satu-satunya yang ndak rupa raksasa atau diyu ya Raden Goenawan Wibisana. Ejaan lama. Dia malah ganteng. Sifatnya pandita. Nah, orang inilah bapaknya perempuan itu. Alah... itu lho yang Sampeyan dari beduk tengah hari tadi amat-amati sambil ngumpet-ngumpet dan garuk-garuk. Mbok kiro aku ndak tahu? Nama perempuan itu adalah...''



''Hmmm...Di negaramu ini juga ada usaha pembunuhan?'' Hanuman nylimur, mengalihkan obrolan. Malulah ia ketahuan kalau mengendap-endap naksir perempuan asing. ''Ada nggak?''



''Ada dong,'' sahut ponokawan Bilung. Ia tak merasa sedang dislimur. ''Tapi di Alengka sini orang dibunuh karena ya untuk dimakan. Mereka ndak punya visi misi yang lain. Beta tahu betul. Beta dan Togog kan su mengabdi di sini sejak sebelum zaman Bung Soekarno. Lha namanya raksasa, buto, kalau ndak pi makan orang mau pi mbadog apalagi...Wong su takdirnya.''



''Makanya saya dan si Beta itu awet,'' Togog menimpal. ''Kami langgeng di Alengka sini karena dianggap bukan orang, ya syukur. Tapi di mana-mana di triloka yang namanya babu memang ndak direken sebagai orang. Saya ngupang-nguping katanya di Nusantara sudah mulai diatur jam kerja bagi babu-babu di rumah-rumah tangga. Ndak boleh lho sehari-semalam disurah-suruh terus nonstop kayak lampu stopan. Tapi buktinya mana? Mereka prei cuma pas Lebaran...''



''Alah, Mas Monyeeeet, Mas Monyet,'' sela Bilung, ''Sampeyan juga aman kok di sini. Pasti awet. Buto maunya cuma pepes orang kok. Mereka ndak doyan bacem munyuk...''



Maksud Hanuman, apa di Alengka juga ada usaha pembunuhan aktivis yang rajin wadul soal rekening gendut para punggawa negeri. Togog dan Bilung saur manuk bergantian membantah. Mereka bilang di Alengka percuma ada usaha coba-coba bunuh orang. Langsung bunuh saja, jadikan bancakan.



Kalau cuma main percobaan pembunuhan aktivis, wah... repot. Nanti calon korbannya malah cuma luka dan leyeh-leyeh di rumah sakit. Nanti Raja Rahwana mau membesuk ke rumah sakit juga serbasalah.



Rakyat Alengka sudah pinter-pinter karena nggak ada yang kelaparan, malah gizinya lebih dari cukup. Mereka juga gak usah terus-terusan mikir kebakaran tabung gas. Jadi mereka masih sempet mikir yang lain. Pasti mereka nanti berpikir, wah junjungan kami membesuk aktivis, mengalihkan perhatian. Nek Rahwana nengok ke rumah sakit, pasti aparat penegak hukum akan kelimpungan mencari siapa calon pembunuh pasien ini. Mereka dan juru warta, tidak akan puyeng lagi pada penyelidikan pemilik rekening babi...



Prabancana Siwi cepat memotong, ''Perempuan tadi juga punya rekening babi?''



Bilung, ''O tidak. Dia bukan babi, eh, bukan punggawa negara. Dorang putri kesayangan Raden Goenawan Wibisana. Ejaan lama. Dorang punya nama Dewi Trijata.''



Nah, ini dia. Hanya info tentang nama ini yang sesungguhnya sejak tadi dinanti-nanti oleh Prabancana Siwi alias Maruti. Obrolan ngalor-ngidul lainnya tidak penting. Maruti alias Pawana Suta sudah eneg ngomong masalah kemasyarakatan. Paling-paling abis itu masyarakat sendiri sudah lupa. Contohnya kasus Century dan lumpur Lapindo. Hmm...Akhirnya... Dewi Trijata to namamu, Diajeng... Nama yang syahdu.



***



Ponokawan Togog sebagai kakak Semar dan stafnya, Bilung, berada di Alengka punya tugas seperti LSM yang bener. Laksana LSM yang belum keblinger, tugas mereka mengingatkan para pamong praja agar kembali ke sirathalmustaqim. Tanpa kawalan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban mulut Togog-Bilung sudah sampai berbusa-busa. Keduanya mohon ke Rahwana agar mengembalikan Putri Mantili, Dewi Sinta. Sekarang mereka senang sekali memergoki Hanuman, duta Prabu Ramawijaya. Mereka berharap Dewi Sinta segera balik.



Kedua ponokawan itu lantas meninggalkan Hanuman di pohon nagasari seraya mengucapkan selamat bertugas sebagai duta. Tak lama kemudian, aduh, Hanuman melihat di kejauhan Dewi Trijata dengan kain parang rusak warna kapuranta, coklat kekuningan. Selaras betisnya yang kuning langsat. Ia berjalan menyangking timba. Rambutnya dibiarkan berangin-angin sepinggang. Banyak kupu-kupu terbang mengiringinya. Aneka belalang, walang kadung, walang daun, dan walang kayu pun berlompatan suka cita. Mungkin perempuan ayu itu hendak mengambil air buat Dewi Sinta ke sendang nun di bawah sana.



Ketika Dewi Trijata akan melewati pohon nagasari, belum sempat Hanuman bersembunyi, Dewi Trijata sudah keburu memergokinya. Hanuman panik. Ia tak ingin putri Goenawan Wibisana itu ketakutan dikageti monyet asing di Taman Argasoka. Ternyata Hanuman keliru. Dewi Trijata hanya tertegun. Terpana. Lalu putri yang dagunya belah itu mesem. Matanya berkaca-kaca.



Belum pernah Dewi Trijata terpesona menatap laki-laki selucu ini. Seluruh bulunya putih lebih lembut dari salju. Mana matahari senja dari sela-sela cengkeh, kapulaga, dan kayu manis membuat bulu putih kera ini berwarna semu lembayung semu keemasan. Dan mata lelaki ini tulus.



Dewi Trijata pernah diajak terbang oleh ayahnya melanglang di atas gunung-gunung: Gunung Suwela, Windu, Wreksamuka, Mahendra, Maenaka, dan Maliawan. Di bukit-lembah di antara gegunung itu Dewi Trijata melihat gambar-gambar para lelaki di pohon-pohon. Kabarnya untuk pemilukada. Dewi Trijata tak tahu apa itu pemilukada. Tapi bagi sang dewi tak satu pun di antara lelaki pajangan itu yang matanya tulus dan bersih. Berbeda jauh dibanding lelaki salah tingkah yang kini sendeku di hadapannya.



Baru kemarin Hanuman bertemu Dewi Sayempraba, perempuan ramah-tamah yang disangkanya penuh kasih sayang bagai sang ibu, Ratna Anjani. Ternyata putri Prabu Wisamarta itu telik sandi, mata-mata Rahwana. Buah-buahan segar yang disuguhkan Dewi Sayempraba dimanterai aji Kemayan. Anjani Putra jadi buta. Untung di dekat Gunung Suwela itu Anjani Putra ditolong oleh Raja Burung Sempati. Netra sang Anjani Putra kembali pulih sehingga kemudian sanggup ia lihat kecantikan Dewi Trijata dari pohon nagasari.



Ternyata tak setiap wanita cantik berbahaya bagaikan Dewi Sayempraba. Pembelaan-pembelaan Dewi Trijata terhadap Dewi Sinta membuktikan, tak setiap wanita cantik menyembunyikan taring dan cakar dan lendir beracun bagai Dewi Sayempraba.



Benih-benih rasa akan tumbuh di antara Trijata-Anjani Putra. Togog datang bikin kaget. ''Saya tahu Sampeyan kera sakti,'' bisik Togog. ''Sampeyan pasti punya aji panglimunan dan panyirepan. Buktinya seluruh raksasa pengawal istana sekarang bleg seg tertidur pulas. Tapi, waduh, aji Sampeyan bocor sampai ke Khatulistiwa. Kasihan nasib rakyat di sana. Produksi beras turun. Harga cabe melangit. Tapi mereka ndak punya pemimpin yang melek. Menteri-menterinya tidur saat sidang kabinet pembagian rapot...'' (*)



Sumber: http://www.jawapos.co.id/mingguan/index.php?act=showpage&kat=11&subkat=16




Baca Selengkapnya - HANOMAN-SAYENGPRABA: CINTA BERTUNAS DI PANGKAL NAGASARI

Sabtu, 24 September 2011

TULISAN SAMA TAPI BEDA TENTANG ANOMAN

Anoman berwujud kera putih, tetapi dapat berbicara dan beradat-istiadat seperti manusia. Ia juga dikenal dengan nama ; Anjanipura (putra Dewi Anjani), Bayudara (putra Bathara Bayu), Bayusiwi, Guruputra (putra Bathara Guru), Handayapati (mempunyai kekuatan yang sangat besar), Yudawisma (panglima perang), Haruta (angin), Maruti, Palwagaseta (kera putih), Prabancana, Ramandayapati (putra angkat Sri Rama), Senggana (panglima perang), Suwiyuswa (panjang usia) dan Mayangkara (roh suci, gelar setelah menjadi pendeta di Kendalisada).

Anoman adalah putra Bathara Guru dengan Dewi Anjani, putri sulung Resi Gotama dengan Dewi Windradi dari pertapaan Erriya/Grastina.Anoman merupakan makluk kekasih dewata. Ia mendapat anugerah Cupumanik Astagina, juga ditakdirkan berumur panjang, hidup dari jaman Ramayana sampai jaman Mahabharata, bahkan sampai awal/memasuki jaman Madya. Anoman memiliki beberapa kesaktian. Ia dapat bertiwikrama, memiliki Aji Sepiangin (dari Bathara Bayu), Aji Pameling (dari Bathara Wisnu), dan Aji Mundri (dari Resi Subali). Tata pakaiannya yang melambangkan kebesaran, antara lain ; Pupuk Jarotasem Ngrawit, Gelung Minangkara, Kelatbahu Sigar Blibar, Kampuh/Kain Poleng berwarna hitam, merah dan putih, Gelang/Binggel Candramurti dan Ikat Pinggang Akar Mimang.

Anoman tiga kali menikah. Pertama dengan Dewi Urangrayung, putri Bagawan Minalodra dari Kandabumi. berputra Trigangga/Triyangga, berujud kera putih. Istri kedua bernama Dewi Sayempraba, putri raksasa Wisakarma dari Gowawindu, tidak mempunyai anak.


Anoman kemudian menikah dengan Dewi Purwati, putri Resi Purwapada dari pertapaan Andonsumawi, berputra Purwaganti. Anoman mempunyai perwatakan ; pemberani, sopan-santun, tahu harga diri. setia. prajurit ulung, waspada, pandai berlagu, rendah hati, teguh dalam pendirian, kuat dan tabah. Ia mati moksa, raga dan sukmanya lenyap di pertapaan Kendalisada.
(Artikel dan semua gambar inidiambil dari http://wayang.wordpress.com/category/wayang-karakter/tokoh-ramayana/page/3/).
Baca Selengkapnya - TULISAN SAMA TAPI BEDA TENTANG ANOMAN

Jumat, 23 September 2011

SUMITRA PRITI


SUMITRA PRITI
Dewi Sumitra dikenal pula dengan nama Dewi Priti. Ia putri dari Bathara Hira/Prabu Ruryana, raja negara Maespati, yang berarti cucu Prabu Arjunawijaya atau Prabu Arjunasasra dengan permaisuri Dewi Citrawati. Dewi Sumitra berwajah sangat cantik. Ia memilki sifat dan perwatakan; setia, murah hati,baik budi, sabar, jatmika (selalu dengan sopan santun) dan sangat berbakti.



Dewi Sumitra menjadi permaisuri ketiga Prabu Dasarata, Raja negara Ayodya. Kedua permaisuri Prabu Dasarata yang lain ialah; Dewi Kusalya/Dewi Ragu, ibu Ramawijaya, dan Dewi Kekayi, ibu Barata. Dari perkawinannya dengan Prabu Dasarata, Dewi Sumitra memperoleh seorang putra yang berwajah sangat tampan bernama, Raden Lesmana yang diyakini sebagai penjelmaan Bathara Suman. Tigabelas tahun lamanya Dewi Sumitra harus berpisah dengan putra tunggalnya, Lesmana yang pergi mengikuti Ramawijaya, meninggalkan negara Ayodya untuk menjalani hukum buang atas kehendak Dewi Kekayi. Selama masa itulah ia dengan setia dan sabar mendampingi seta menghibur hati Dewi Kusalya.
Dewi Sumitra meninggal dalam usia lanjut. Ia masih sempat ikut menyaksikan dan menikmati masa kejayaan negara Ayodya di bawah pemerintahan Prabu Ramawijaya dengan pendamping Lesmana, putra tunggalnya.(Artikel ini diambil dari http://wayang.wordpress.com/2010/03/14/sumitra-2/#more-2606).

Baca Selengkapnya - SUMITRA PRITI

Kamis, 22 September 2011

DEWI SUKESI

Dewi Sukesi, diambil dari http://wayang.wordpress.com/2006/10/26/sukesi/#more-261




DEWI SUKESI
Dewi Sukesi adalah putri sulung Prabu Sumali, raja negara Alengka dengan permaisuri Dewi Desidara. Ia mempunyai adik kandung bernama Prahasta. Walau ayahnya berwujud raksasa Dewi Sukesi berwajah cantik seperti ibunya, seorang hapsari/bidadari. Ia mempunyai perwatakan, sangat bersahaja, jujur, setia dan kuat dalam pendirian.



Setelah dewasa Dewi Sukesi menjadi lamaran para satria dan raja. Untuk menentukan pilihan, Dewi Sukesi menggelar sayembara : barang siapa yang bisa menjabarkan ilmu �Sastra Harjendra Yuningrat� dialah yang berhak menjadi suaminya. Selain itu, pamannya, Ditya Jambumangli putra Ditya Maliawan, yang secara diam-diam mencintai Dewi Sukesi ikut mengajukan satu persyaratan ; bahwa hanya mereka yang dapat mengalahkan dirinya yang berhak mengawini Dewi Sukesi.
Sayembara akhirnya dimenangkan oleh Resi Wisrawa, brahmana dari pertapaan Girijembatan, yang meminang Dewi Sukesi atas nama putranya, Prabu Wisrawana/Danaraja, raja negara Lokapala. Selain dapat menjabarkan ilmu �Sastra Harjendra Yuningrat�, Resi Wisrawa juga berhasil membunuh Ditya Jambumangli. Dewi Sukesi yang menolak dinikahkan dengan Prabu Danaraja, akhirnya menikah dengan Resi Wisrawa. Dari perkawinan tersebut, ia memperoleh empat orang putra, masing-masing bernama ; Rahwana, Arya Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka dan Arya Wibisana.
Akhir riwayat Dewi Sukesi diceritakan, ia meninggal karena sedih dan sakit setelah istana Alengka dibakar oleh Anoman. (Artikel ini diambil dari http://wayang.wordpress.com/2006/10/26/sukesi/#more-261).


Baca Selengkapnya - DEWI SUKESI

Rabu, 21 September 2011

DANARAJA

Gambar Danaraja, diambil dari http://wayang.wordpress.com/2006/10/26/danaraja/#more-257




DANARAJA
Prabu Danaraja yang waktu mudanya bernama Wisrawana, dikenal pula dengan nama gelar, Prabu Danapati dan Prabu Bisawarna. Ia adalah putra tunggal Resi Wisrawa, raja negara Lokapala dengan permaisuri Dewi Lokawati, putri Prabu Lowana dengan Dewi Lokati. Danaraja juga mempunyai empat saudara seayah lain ibu, putra Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali dari negara Alengka, masing-masing bernama : Rahwana/Dasamuka, Arya Kumbakarna, Dewi Sarpakenaka dan Arya Wibisana.



Prabu Danaraja menjadi raja negara Lokapala menggantikan ayahnya, Resi Wisrawa yang mengundurkan diri hidup sebagai brahmana di pertapaan Girijembatan. Ia sangat sakti karena memiliki Aji Rawarontek dan pusaka Gandik Kencana. Prabu Danaraja gagal memperistri Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali raja negara Alengka. Dewi Sukesi diperistri ayahnya sendiri, Resi Wisrawa yang telah berhasil menjabarkan ilmu �Sastra Harjendra Yuningrat� dan membunuh Ditya Jambumangli. Prabu Danaraja kemudian menyerang negara Alengka dan bertempur dengan ayahnya sendiri. Dalam pertempuran tersebut, ia berhasil membunuh Resi Wisrawa. .
Beberapa tahun kemudian perbuatan Prabu Danaraja dibalas oleh Rahwana/Dasamuka. Ia tewas terbunuh dalam peperangan melawan Dasamuka. Sebelum menemui ajalnya, Prabu Danaraja terlebih dahulu menyerahkan Aji Rawarontek dan pusaka Gandik Kencana kepada Dasamuka/Rahwana.(Artikel ini diambil dari http://wayang.wordpress.com/2006/10/26/danaraja/#more-257).


Baca Selengkapnya - DANARAJA

Selasa, 20 September 2011

KISAH YANG TERCECER TENTANG ANOMAN


ANOMAN, dalam gambar grafis bergaya komik wayang,
berdasarkan penampilan pada panggung Wayang Orang gaya Surakarta.




DEWI SAYEMPRABA dan DEWI PURWATI,
dua wanita yang pernah mewarnai kehidupan Anoman.
Gambar grafis wayang kulit Purwa Gagarak Surakarta, diambil dari http://blvckshadow.blogspot.com/2010/03/anoman.html



ANOMAN, Wayang Kulit Purwa gagrak Cirebon. Gambar diambil dari http://blvckshadow.blogspot.com/2010/03/anoman.html




Kisah Yang Tercecer Tentang Anoman

ANOMAN, tokoh wayang terkenal dalam seri Ramayana, yang dalam Wayang Purwa juga sering muncul dalam kisah-kisah Mahabarata. Ia berujud kera berbulu putih. Ibunya adalah Dewi Anjani, sedangkan ayahnya Batara Guru. Pada saat Ramawijaya mengerahkan bala tentara kera menyerbu Kerajaan Alengka untuk membebaskan Dewi Sinta yang diculik Prabu Dasamuka, Anoman bertindak sebagai salah satu senapati.



Dalam pewayangan, kisah kelahiran Anoman diceritakan sebagai berikut:

Ketika suatu saat Batara Guru sedang terbang melalang di atas Telaga Nirmala, ia menyaksikan seorang wanita muda sedang melakukan tapa kungkum. Melihat tubuh wanita muda itu, Dewi Anjani namanya, Batara Guru tidak dapat menahan birahinya dan jatuhlah kama benihnya, menimpa sehelai daun asam muda yang mengapung di permukaan telaga. Daun asam muda yang oleh orang Jawa disebut sinom itu hanyut terbawa arus dan akhirnya tertelan oleh Dewi Anjani. Seketika itu juga Dewi Anjani hamil. Karena merasa tidak pernah disentuh pria, segera Anjani menuntut Batara Guru untuk bertanggung jawab atas kehamilannya. Ternyata pemuka dewa itu tidak mengelakkan tanggung jawab. Ia mengakui bayi yang berada dalam kandungan Anjani sebagai anaknya, dan memerintahkan para bidadari menolong kelahirannya. Bayi itu kemudian diberi nama Anoman.



Kelahiran Anoman ditandai dengan gara-gara yang melanda dunia. Gunung-gunung meletus, badai dan air bah terjadi di mana-mana. Para dewa segera mengutus beberapa bidadari untuk menolong persalinan Dewi Anjani. Sesudah Anoman lahir, para bidadari membawa Dewi Anjani dan bayinya ke kahyangan. Atas perkenan para dewa, sesudah melahirkan anaknya wanita berwajah kera itu berubah ujud menjadi wanita cantik kembali. Selama sisa hidupnya ia pun diperkenankan hidup di kahyangan sebagai bidadari. Batara Guru memberi nama Anoman kepada bayi kera berbulu putih bersih Anoman dan memerintahkan kepada Batara Bayu untuk mengasuhnya. Itulah sebabnya, Anoman juga bernama Bayusuta atau Bayutanaya, Maruti atau Marutaseta. (Selain Anoman, sebutan Bayusuta atau Bayutanaya juga dipakai untuk menyebut Bima. Jadi menurut pewayangan, terutama di Pulau Jawa, Anoman adalah anak Batara Guru yang diasuh oleh Batara Bayu atau Batara Maruta).



Sebagai putra angkat atau anak asuh Batara Bayu, Anoman mengenakan kain Poleng Bang Bintulu Aji dan berkuku Pancanaka. Dalam pewayangan ada Sembilan tokoh yang merupakan "saudara tunggal Bayu". Mereka adalah:
  • Batara Bayu sendiri,
  • Anoman,
  • Bima,
  • Wil Jajahwreka,
  • Begawan Maenaka,
  • Liman Situbanda,
  • Dewa Ruci,
  • Garuda Mahambira,
  • Naga Kuwara.


Versi-versi lainnya:

Menurut Kitab Ramayana asli karangan Walmiki, Anoman bukan anak Batara Guru, melainkan anak Dewa Maruta, penguasa angin. Itulah sebabnya ia juga bernama Maruti atau Marutasuta. Sementara menurut Serat Kanda Anoman adalah anak Prabu Ramawijaya dan Dewi Sinta, yang lahir di tengah Hutan Dandaka. sebelum Dewi Sinta diculik Rahwana. Versi Anoman anak Rama-Sinta ini tidak begitu lazim dalam dunia pedalangan di Indonesia.



Pedalangan Jawa Timuran yang banyak terpengaruh Serat Kanda. Kisah kelahiran Anoman di pewayangan Jawatimuran, dimulai pada saat pengembaraan Rama, Dewi Sinta, dan Laksmana di hutan, pada masa pembuangan. Pada saat itu Dewi Sinta telah hamil muda. Suatu ketika, segera setelah Rama dan Dewi Sinta mandi di Telaga Tirta Sumala, dari tubuh mereka keluar bulu-bulu putih.

Tanpa diketahui sebabnya, tiba-tiba Dewi Sinta keguguran. Dari rahim Sinta keluar gumpalan darah. Ramawijaya kemudian menyuruh Laksmana membungkus gumpalan darah itu dengan daun lumbu (talas), dengan menyertakan sebelah anting-anting emas miliknya ke dalam bungkusan itu. Bungkusan itu lalu dilempar jauh-jauh oleh Laksmana. Tepat pada saat itu, Batara Guru yang sedang melanglang buana, menangkap bungkusan itu dan membawanya. Beberapa waktu kemudian, ketika dari angkasa Batara Guru melihat seorang wanita dengan tapa ngodok, tanpa busana. Karena terpana melihat keindahan lekuk tubuh wanita itu, tanpa terasa bungkusan yang dipegangnya jatuh tepat di hadapan sang Tapa. Sementara itu, karena birahinya menggejolak, jatuhlah kama benih (mani) Batara Guru, tepat menimpa bungkusan itu.

Dewi Anjani, Sang Tapa, segera memakan bungkusan daun talas itu. Maka, hamillah Dewi Anjani. Ketika kemudian lahir, bayi yang berujud kera putih itu dinamai Anjali Kencana.



Sebagaimana tokoh wayang terkenal lainnya, Anoman memiliki banyak nama lain.

Ia juga disebut: Anjaniputra, Anjali Kencana, Bambang Senggana, Prabancana, Ramandayapati, Maruti, Marmasuta, Kapiwara, dan Begawan Mayangkara. Nama Anoman yang terakhir ini digunakan ketika Anoman sudah tua, dan hidup sebagai pertapa di Pertapaan Kendalisada.



Tetapi menurut pedalangan gagrak Jawatimuran, nama Anoman baru disandang Setelah ia menjadi utusan Ramawijaya ke Alengka untuk menjumpai Dewi Sinta di Taman Argasoka. Di negara itu ia membunuh senapati raksasa bernama Ditya Kala Anoman, Ditya Kala Ndayapati, dan Ditya Kala Prabancana. Nama-nama raksasa yang mati itu lalu diambil sebagai nama aliasnya. Sebelumnya, ia bernama Anjila Kencana. Setelah dewasa, oleh Batara Guru Anoman diperintahkan turun ke dunia untuk mengabdi pada Ramawijaya yang merupakan titisan Batara Wisnu. Anoman menjumpai Rama dan Laksmana ketika kedua ksatria itu sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Alengka. Saat itu Anoman sedang diperintah Sugriwa raja Guwakiskenda mencari bantuan untuk mengalahkan Subali. Setelah Rama membunuh Resi Subali, Sugriwa menyatakan bersedia membantu usaha Rama membebaskan Dewi Sinta dengan mengerahkan seluruh bala tentara keranya.



Pada waktu Dewi Sinta disekap di Taman Argasoka, Alengka, Ramawijaya mengutus Anoman untuk menemui istrinya secara diam-diam. Kera putih itu berhasil menyelundup masuk dan bertemu muka serta menyampaikan pesan Ramawijaya kepada Dewi Sinta. Sesudah menunaikan tugas pokoknya Anoman sengaja membuat gara-gara dengan membuat kerusakan di lingkungan Keraton Alengka. Prabu Dasamuka segera mengutus putranya, Indrajit, untuk menangkapnya. Dengan panah Nagapasa, yang jika dilepaskan dari busurnya berubah menjadi ribuan ular dan melilit tubuhnya, Anoman tertangkap. Dalam keadaan terikat, Anoman dibakar hidup-hidup. Tetapi justru ketika itulah, dalam keadaan bulunya terbakar, Anoman meloloskan diri sambil membakari Istana Alengka. Peristiwa itu diceritakan dalam lakon Senggana Duta atau Anoman Obong.



Waktu bala tentara Ramawijaya yang terdiri atas pasukan kera menyerbu Kerajaan Alengka, Anoman bertindak sebagai salah seorang senapatinya. Anoman pula yang menindih tubuh Prabu Dasamuka dengan gunung karena raja Alengka itu selalu dapat hidup kembali setelah mati terpanah oleh Ramawijaya. Karena jasa-jasanya membantu Ramawijaya dalam usaha merebut kembali Dewi Sinta dari tangan Dasamuka, Anoman diangkat anak oleh Rama. Karena itu Anoman juga mendapat sebutan Ramandayapati.



Anoman sebenarnya jatuh cinta pada Dewi Trijata, putri Gunawan Wibisana. Wanita cantik itu dijumpainya sewaktu Anoman menjalankan tugas sebagai duta menemui Dewi Sinta di Taman Argasoka di Alengka. Tetapi karena ia tahu bahwa Dewi Trijata sebenarnya berharap dapat menjadi istri Laksmana, Anoman mengurungkan niatnya untuk memperistri Trijata.



Sebelumnya, dalam perjalanan menuju Alengka pahlawan kera berbulu putih itu sempat dirayu seorang bidadari bernama Dewi Sayempraba, putri Batara Wiswakrama. Dewi Sayempraba sesungguhnya adalah salah seorang istri Dasamuka. Untuk mencegah jangan sampai Anoman tiba di Alengka, Dewi Sayempraba mencegatnya dan merayu, kemudian memberinya makanan berupa buah-buahan. Ternyata makanan itu sudah lebih dahulu dibubuhi racun. Akibatnya, setelah makan Anoman menjadi buta dan hilang kekuatannya. Ia hampir pingsan sewaktu seekor burung garuda bernama Sempati datang menolongnya. Anoman disembuhkan dari kebutaan dan diberi petunjuk caranya pergi ke Alengka.



Namun rayuan Dewi Sayempraba sempat membuat bidadari, yang juga istri Dasamuka, itu hamil. Anak yang kemudian lahir juga berujud kera, dinamakan Tringganga atau Triyangga. Versi lain menyebutkan Anoman mempunyai anak Trigangga bukan dari Dewi Sayempraba melainkan dari Dewi Urangayu (sebagian dalang menyebut bukan Urang Ayu melainkan Dewi Urang Rayung) putri Begawan Mintuna. Istri Anoman yang lain adalah Dewi Purwati, yang melahirkan anak bernama Purwaganti.



Dalam cerita pewayangan di Indonesia, Anoman berumur sangat panjang. Menurut Serat Mayangkara ia hidup pada zaman Ramawijaya, zaman Pandawa, dan baru meninggal beratus tahun setelah Prabu Parikesit meninggal, yakni pada zaman pemerintahan Prabu Jayabaya di Kediri. Sedangkan dalam cerita asli Ramayana, Anoman hanya hidup pada zaman Ramawijaya saja.



Ada lagi dalang yang menganut versi bahwa Anoman hidup sepanjang masa, yakni masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Versi ini menyebutkan, Anoman memang ditugasi para dewa untuk menjaga Dasamuka. Raja Alengka ini tidak dapat mati karena memiliki Aji Pancasona yang diwarisinya dari Resi Subali. Karena itu setiap kali Dasamuka mati dan tubuhnya menyentuh bumi, ia akan hidup kembali. Karena itulah untuk menjaga jangan sampai Prabu Dasamuka membuat onar kembali di dunia, Anoman diharuskan tetap hidup selamanya, sampai saat dunia kiamat nanti.



Sebuah versi lain menyebutkan tentang kematian Anoman sebagai berikut:

Waktu itu, jauh sesudah selesainya Baratayuda, sewaktu di Pulau Jawa telah berdiri Kerajaan Mamenang (Kediri atau Daha), Anoman pergi ke kahyangan menghadap para dewa. Kepada Batara Guru ia mengatakan sudah bosan hidup di dunia, dan menanyakan kapan ia akan mati. Batara Guru menjawab, belum waktunya. Anoman tidak puas dengan jawaban itu, kemudian berkata, bahwa selama "hidup ratusan tahun, ia telah mendarmabaktikan segala kemampuan dan kesaktiannya untuk kesejahteraan dan keamanan dunia. Kini Anoman menuntut agar permintaannya yang terakhir, yaitu agar ia segera mati, dipenuhi oleh para dewa. Batara Guru menjawab: "Baik! Tetapi engkau lebih dahulu masih harus menjalankan sebuah tugas lagi, yaitu menjodohkan ketiga orang putra Prabu Sriwahana (sebagian dalang menyebut Prabu Sriwahana dengan sebutan Prabu Sariwahana) dari Kerajaan Yawastina."



Dalam pelaksanaan tugas itu nanti, menurut Batara Guru, Anoman akan gugur. Karena, seorang ksatria agung seperti Anoman tidak layak bila mati di tempat tidur. Para dewa memutuskan, Anoman harus gugur sebagai ksatria sejati di medan tugas. Anoman menyanggupi tugas itu karena ia memang ingin mati sebagai prajurit.

Pertarna-tama ia menemui Prabu Sriwahana dan menguraikan tentang maksud para dewa menjodohkan ketiga putra raja Yawastina itu dengan putri-putri Prabu Jayabaya. Prabu Sriwahana menyetujui. Maka berangkatlah Anoman ke Mamenang. Sebenarnya lamaran yang diajukan Anoman untuk ketiga putra raja Yawastina itu diterima oleh Prabu Jayabaya. Namun, sebelum pembicaran itu tuntas, tiba-tiba datanglah Prabu Yaksadewa. Raja raksasa itu ternyata juga akan melamar ketiga putri Prabu Jayabaya.

Perkelahian tidak dapat dihindari. Seperti janji para dewa, dalam pertempuran itu Anoman gugur. Menyaksikan peristiwa itu, Prabu Jayabaya marah, dan berhadapan dengan Prabu Yaksadewa.

Raja raksasa itu berhasil dikalahkannya, dan berubah ujud menjadi Batara Kala, yang kemudian lari pulang ke tempat kediamannya di Setra Gandamayit.



Dari cerita ini jelas bahwa Anoman, menurut pewayangan, tewas oleh Batara Kala, pada zaman Kerajaan Mamenang, atau Kerajaan Kediri.



Menurut Mahabarata versi Jawa Kuna, yakni pada bagian Tritayatra Parwa, Anoman pernah berjumpa dengan Bima. Waktu itu para Pandawa sedang menjalani pembuangan selama 12 tahun di hutan. Waktu Bima hendak lewat di sebuah jalan sempit di tebing jurang, seekor kera putih sedang berbaring melintang jalan. Dengan sopan Bima minta agar kera putih itu menepi agar ia bisa lewat.

Sang Kera Putih menjawab: "Jika aku menghalangi perjalananmu, mengapa bukan kau lompati saja aku, atau engkau singkirkan saja tubuhku ke tepi?" Bima menolak melompati kera itu karena perbuatan itu tidak sopan. Ia pun tidak mau menyingkirkan kera itu, karena itu berarti memaksakan kehendak.

Sang Kera lalu mengatakan: "Bila engkau dapat mengangkat ekorku, maka dengan sukarela aku akan menyingkir dari tempat ini."

Tanpa banyak bicara Bima mencoba mengangkat ekor kera itu, namun ternyata tidak sanggup, meskipun ia telah mengerahkan segenap kesaktiannya. Kini tahulah Bima bahwa ia berhadapan dengan seekor kera Sakti berilmu tinggi. Karenanya, Bima segera memohon agar diterima sebagai muridnya. Permohonan Bima dipenuhi. Anoman lalu memperkenalkan diri bahwa sebenamya ia dan Bima "saudara Tunggal Bayu". Ia pun memberikan beberapa ilmu pada "saudara Tunggal Bayu"nya itu. Di antara yang diwariskan adalah ilmu mengenai pembagian zaman yang selalu berlangsung di alam dunia ini.



Pembagian zaman di dunia menurut Anoman adalah:

Zaman Kreta atau Kretayuga, yakni zaman ke-utamaan yang sempurna. Di dunia hanya ada satu agama, tidak ada kejahatan, belum ada tradisi jual beli, yang ada hanya memberi dan menerima. Setiap manusia menjalankan kewajiban (derma) masing-masing dengan sebaik-baiknya, tanpa ada rasa iri atau sirik pada orang lain. Semua manusia mempunyai kedudukan sama terhadap manusia lainnya.



Zaman Tirta atau Tirtayuga, yakni ketika di dunia ini mulai terdapat orang-orang yang berhati jahat. Seperempat penduduk dunia menjadi orang yang berperilaku dengki, iri dan sutra mengambil yang bukan miliknya. Yang baik hanya tinggal tiga perempat bagian saja. pada zaman ini muncul kebiasaan orang mengadakan sesaji, dan timbul berbagai macam agama. pada zaman Tirta pula dimulai adanya pembagian golongan masyarakat: golongan brahmana, ksatria, waisya, dan sudra.



Zaman Dupara atau Duparayuga, ketika manusia di dunia ini terbagi menjadi dua bagian. Yang separuh menjadi orang jahat dan separuh sisanya tetap baik. Jumlah agama makin banyak, tetapi yang memperhatikan kaidah dan norma agama itu makin sedikit. Banyak orang bertapa dan mencari kesaktian, namun sebagian dari mereka bertujuan buruk. Orang yang ingin berbuat kebaikan makin banyak godaan dan halangannya.



Zaman Kali atau Kaliyuga, yakni zaman di mana keburukan menang atas kebaikan. Golongan manusia yang masih berjalan di jalan keutamaan tinggal seperempat bagian saja. Sisanya sudah menjadi orang jahat. Agama, walaupun makin banyak macamnya, seakan sudah tidak lagi dipedulikan orang. Banyak orang malas, tetapi mereka selalu iri pada keberhasilan orang yang rajin. Orang takut melarat, tetapi tidak berusaha untuk menjadi kaya. Zaman ini adalah zaman ketika usia dunia telah tua, telah mendekati akhir zaman.



Selain itu, Anoman masih banyak memberikan wejangan dan bimbingan kepada Bima mengenai rahasia hidup, dan kehidupan alam. Iapun mengajarkan beberapa ilmu, di antaranya ilmu Sepi Angin.

Tetapi selain memberikan ilmu-ilmunya pada Bima, Anoman pun pernah berguru pada Bima. Waktu Bima mengajarkan berbagai ilmu spiritual kepada anak-anak dan keponakannya di Gunung Argakelasa, Anoman pun ikut menjadi muridnya. Waktu itu Anoman menggunakan nama Kapiwara.



Pada seni kriya Wayang Kulit Purwa gaya Surakarta, tokoh Anoman dilukiskan bermata satu (karena dipandang dari satu sisi), sedangkan pada gaya Yogyakarta dan Kedu, bermata dua.

Setelah Anoman lanjut usia dan menjadi pertapa di Kendalisada, ia lebih dikenal dengan nama Resi Mayangkara, dan figur wayangnya mengenakan sampir, yakni selendang di bahunya.

Dalam Wayang Orang, tokoh Anoman ditarikan oleh seorang penari pria. Ia mengenakan topeng mulut dan hidung, dan berpakaian kaus putih menutupi badan dan tangan serta kakinya.



Lakon yang melibatkan Anoman:
  • Anoman Lahir
  • Anoman Takon Bapa
  • Anoman Duta
  • Resi Mayangkara
  • Rama Tambak
  • Anggada Balik
  • Brubuh Alengka
  • Rama Nitis
  • Rama Nitik
  • Pejahipun Trinetra - Trikaya


Baca Selengkapnya - KISAH YANG TERCECER TENTANG ANOMAN