Pages

Senin, 31 Oktober 2011

HARJUNA SASRABAHU GUGUR

Harjuna Sasrabahu, gambar ini di ambil dari http://wayang.files.wordpress.com/2010/03/arjunasasrabahu_solo21.jpg


Harjuna Sasrabahu Gugur

Harjuna Sasrabhu yang telah kehilangan segala-galanya sudah berbulan-bulan lamanya mencari mati. Ia manantang, membenci dengan siapa saja yang dijumpainya. Ia pikir mungkin tak salah satu yang dijumpainya adalah Wisnu. Ia lupa bahwa Wisnu yang dicarinya lebih dekat dengan pribadinya. WIsnu ada dalam pusat rahsanya. Bukankah telah diajarkan bahwa:
�Lamun yitna kayitnan kang miyatani. Tarlen mung pribadinipun kang katon tinonton kono�.
Artinya: Asal tetap waspada dan ketengan yang sempurna maka yang tampak hanyalah dirinya sendiri. Demikian ajaran Wedha.
Syahdan, pada suatu saat tiba-tiba Harjuna Sasrabahu dalam perjalanannya terhalang oleh sebuah tubuh yang kekar, tinggi bercawat laksana manusia purba, namun ia memancarkan sinar terangnya.
Maka pikir Harjuna Sasrabahu : �kini aku ketemu Wisnu�.
Sebaliknya Ramabargawa melihat kedatangan Harjuna Sasrabahu yang memancarkan cahaya terang, juga berkata: �Kini aku ketemu yang kucari, Wisnu�.
Setelah kedua-duanya saling berpandangan, maka terjadilah dialog:
- Hai Engkau. Siapakah namamu? Aku adalah Ramaparasu, sudahkah engkau mengenal aku?
- Jawab Harjuna Sasrabahu: �O Engkau, aku telah mendengar namamu. Sungguh tak kuduga dan kusangka aku akan bertemu dengan Engkau, karena Engkau adalah Wisnu yang kucari. Namaku adalah Harjuna Sasrabahu, semula raja di negara Maespati.
Saking gembiranya Ramaparasu tertawa terbahak-bahak katanya:
- Kalau begitu Engkau adalah Wisnu, sekarang lepaskanlah cakramu kepadaku biarkanlah aku mati dan hanya akan mati oleh Wisnu agar supaya aku berada disisimu.
- Harjuna Sasrabahu memotong ucapan Ramaparasu: �Aku adalah Aku, Engkau adalah Engkau. Aku takkan membunuh Engkau, karena Engkau adalah Wisnu yang aku cari.
- Saut Ramabargawa, sambil menantang Harjuna Sasrabahu. �Kalau Engkau tak mau membunuh Aku, Maka akulah yang akan membunuh Engkau.
Ramabargawa dan Harjuna Sasrabahu berhenti berdialog. Kedua-duanya menyiagakan diri untuk melepaskan senjatanya, tetapi Harjuna Sasrabahu menahan senjata cakra dan tidak dilepaskan tali busurnya.
Sebaliknya Ramabargawa dengan sungguh-sungguh melepaskan senjatanya. Bargawastra/kapaknya lepas bersuling membelah angkasa menatap dada Harjuna Sasrabahu belah menjadi dua.
Harjuna Sasrabahu terbunuh rebah ditanah tak bergerak. Kemudian mukswa dengan seluruh raganya ia mencapai Nirwana. Sedang Ramabargawa, sejenak tertegun berdiri tegak dan setelah sampai puncaknya ia berteriak, kalau begitu Aku adalah Wisnu. Wisnu adalah kebenaran. Jadi Aku adalah Kebenaran.
Demikian dialog seorang yang sedang mencari dan bertemu dengan Kebenaran. Seperti halnya Sunan Bonang berdialog dengan Sunan Kali Jaga dan Wujil.
�Mati adalah kebaktian yang paling tepat, dimana tiada lagi dieprhitungkan, O, Wujil, karena orang kembali keasalnya. Jikau kau masih memperhitungkan sesuatu, kau tidak akan menemukan yang kau harapkan. Dan jika kau ingin menemukanNya, maka kau harus merusak badanmu (atau : �nafsu-nafsumu�). Jika engkau telah menemukanNya maka kemauanmu akan manunggal (bersatu) dengan kemauanNya.
Kau akan manunggal dengan DIA ; hanya namanya saja berlainan ; kau akan menjadi satu dalam �rasa� dengan DIA dengan berbeda wujud. Dalam segala hal kau akan manunggal dengan DIA. Sesudah manunggal, dimana kau menyerahkan mati dan hidupmu, kepadaNya, bagimu tidak ada larangan dalam hal pangan dan sandang. Semua kehendakmu menjadi satu dengan kehendakNya. Orang yang telah diampuni, tidak boleh memilih maupun membagi dua (yaitu : membeda-bedakan dalam segala hal), suatu tanda dari manunggalnya kehendak DIA.
Nah, saya kira sekarang menjadi jelas apabila ada orang berkata �Manunggaling Kawula Gusti� persatuan antara manusia dan Tuhan. Dari tamsil tersebut di atas jelas bahwa yang bersatu itu hanyalah kemauannya (cihna tinunggil karsa) atau hanya irada-Nya. Bukan zat-Nya. Tuhan adalah tidak terbatas, sedang manusia adalah terbatas. Tidak mungkin cangkir teh dapat menampung air samudera.
Semoga uraian ini dapat menambah terang dan menjadi jelas kiranya. Keterangan ini tak dapat dijelaskan lebih jauh dari apa yang dipaparkan di atas karena sinengker atau �esoteris�.
IR SRI MULYONO

Baca Selengkapnya - HARJUNA SASRABAHU GUGUR

Minggu, 30 Oktober 2011

HARJUNA SASRABAHU DEMI CINTA RELA KEHILANGAN SEGALA-GALANYA

Gambar Harjuna Sasrabahu saat Tiwikrama menjadi raksasa (buto), diambil dari http://www.kaskus.us/showthread.php?p=194463166


Harjuna Sasrabahu Demi Cinta Rela Kehilangan Segala-galanya

Semula Harjuna Sasrabahu adalah seorang raja agung dari negeri Maespati yang gemah ripah, loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Tetapi kemudian semuanya punah karena salahlangkah dari tingkah polanya sendiri. Ia gandrung mabuk asmara dengan Citrawati putri raja dari negeri Magada. Tetapi, ya ampun permintaannya. Ia mau menjadi permaisuri asalkan disediakan 800 orang putri pengiring yang sama rupa, sama cantik dan sama pula suaranya. Walaupun sudah dipenuhi permintaannya, namun masih kurang puas juga. Ia menghendaki suatu taman Sriwedari yang indahnya seperti taman yang ada di kahyangan. Permintaannya yang tidak masuk akal inipun dipenuhinya juga. Harjuna Sasrabahu segera mengeluarkan surat perintah kepada Menteri kesayangannya, yang bernama Sumantri. Belum sampai Sumantri habis pikir, darimana ia akan mendapatkan dana untuk membangun taman Sriwedari itu, tiba-tiba datanglah Sukasrana, adiknya yang berwajah raksasa, guna membantu Sumantri, Sukrasana yang berwajah raksasa, guna membantu Sumantri, Sukrasana dengan mudah membangun taman Sriwedari, untuk memuaskan nafsu Citrawati.

Keberhasilan Sumantri membuat gembira seluruh kerabat raja. Mulai saat itu mereka hidup dalam kemewahan, bahkan setiap hari mereka bercengkerama dan berpesta pora di taman Sriwedari.
Syahdan pada suatu hari Citrawati bertingkah lagi, Ia ingin mandi dan berenang bersama �maru� dan dayang-dayangnya. Tapi kecewa karena kolam renang taman Sriwedari kering tak ada airnya.
�Kakanda, aku ingin mandi sambil �ciblon�, penuhilah keinginanku.� Demikianlah rayu Citrawati mengadu kepada Harjuna Sasrabahu.
Karena cintanya maka Harjuna Sasrabahu bertriwikrama merubah badannya menjadi seorang raksasa yang maha besar, hanya untuk tidur melintang menghalangi aliran air sungai. Maka terbendunglah air, sehingga terjadi danau buatan yang indah membiru laksana langit di darat. Citrawati bersama maru dan inang-inangnya bersuka ria. Apel, anggur, durian, duku dan segala macam buah-buahan diusung ketempat permandian. Pendek kata berpestaporalah mereka. Sedang Sumantri piket dari jauh untuk berjaga-jaga kemungkinan ada bahaya yang mengancam rajanya. memang benar firasat Sumantri. Tak lama kemudian Rahwana datang. Tatkala ia melihat tubuh cantik Citrawati yang hanya memakai selapis kain tipis menutupi wadinya, tak sabarlah Rahwana, ia ingin segera menculiknya. Tetapi maksud Rahwana dapat digagalkan. Sumantri dapat meremuk kesepuluh kepada Rahwana. Berkat aji Pancasonanya Rahwana tak mati oleh tangan Sumantri, bahkan sebaliknya, Sumantri robek dadanya, karena digigit dan dikunyah-kunyah oleh Rahwana.
Betapa marahnya Prabu Harjuna Sasrabahu, ketika mendengar Sumantri telah mati. Bangunlah ia dari tidurnya dan bangkit menghajar Rahwana. Rahwana diikat dalam keretanya dan ditarik di seret mengelilingi alun-alun negeri Maespati. Rahwana memang belum harus mati oleh Harjuna Sasrabahu. Mengapa? Karena Harjuna Sasrabahu bukan Wisnu lagi. Wisnu telah meninggalkan raganya, akibat pekerti sang prabu itu sendiri. Malapetaka telah menghampiri negeri Maespati. Dewi Citrawati yang dipuja-pujapun bunuh diri karena tipu muslihat Marica, seorang intel Rahwana. Harjuna Sasrabahu lemas, hancur hatinya, mendengar berita kematian istrinya. Ia menggugat kepada Dewa.
Lebih konyol lagi, Harjuna Sasrabahu memutuskan untuk meninggalkan Maespati, lelana brata mencari mati. Rakyat Maespati ditinggalkan dan dibiarkan menderita, akibatnya negara rusak karena keputusannya. Di tengah jalan ia berjumpa dengan Rama Parasu inkarnasi Wisnu yang sebenarnya. Harjuna Sasrabahu diremuk badannya, dan dijuing-juing oleh kapak Rama Parasu sebagai penebus dosa.
Dari cerita tersebut diatas, kita dapat menarik suatu pelajaran, bahwa Harjuna Sasrabahu yang serba seribu itu tentunya nafsu jahatnya pun seribu pula. Artinya, bahwasanya manusia yang selalu menuruti hawa nafsu jahatnya, cepat atau lambat pasti akan kehilangan segala-galanya. Sedangkan kalau dilihat secara rohaniah, keputusan Harjuna Sasrabahu menginggalkan tahta dan mahkotanya kemudian pergi mencari kematiannya itu melambangkan bahwa manusia yang ingin mencapai Nirwana atau kesempurnaan, hendaknya benar-benar berani menginggalkan hidup keduniawian (ascestik = pertapa).
Dalam lakon ini digambarkan Harjuna Sasrabahu mencari Wisnu. Apa yang akan terjadi kalau Harjuna Sasrabahu nanti bertemu dengan Wisnu? Marilah kita ikuti cerita selanjutnya.
IR. SRI MULYONO
Baca Selengkapnya - HARJUNA SASRABAHU DEMI CINTA RELA KEHILANGAN SEGALA-GALANYA

Sabtu, 29 Oktober 2011

HARJUNA SASRABAHU DAN RAMABARGAWA SAMA-SAMA MENCARI HARGA DIRI ATAU SEKEDAR PEMBENARAN DIRI

Gambar Ramaparasu, diambil dari http://wayang.wordpress.com/2010/03/06/harjuna-sasrabahu-dan-ramabargawa-sama-sama-mencari-wisnu-atau-dirinya-sendiri/




Harjuna Sasrabahu Dan Ramabargawa Sama-Sama Mencari Harga Diri Atau Sekedar Pembenaran Diri

Tak terhitung jumlah golongan satria yang telah dibunuh dengan senjata kapak dan Bargawastranya. Nama Ramaparasu sangat ditakuti oleh segenap satria diseluruh penjuru dunia. Akibatnya setiap ada kabar, bahwa kampung dan kotanya akan dilalui oleh Ramabargawa terjadilah evakuasi yang �semrawut� secara besar-besaran. Pekerti Ramabargawa ini sebetulnya sadis dan kejam, bahkan melanggar sumpahnya sendiri. Mengapa? Ramabargawa telah bersumpah akan membunuh setiap satria yang ia temui karena ia menganggap bahwa golongan satria yang melakukan pembunuhan diklasifikasikannya sebagai pembunuh. Karena itu golongan satria harus dimusnahkan. Ia benci kepada pembunuhan. Nah, disinilah letak ironi dan kalutnya pemikiran Ramabargawa.



Ia lupa bahwa apa yang dianggapnya benar itu sebetulnya malahan justru yang ia kutuk sendiri. Ia lupa bahwa dirinya sendirilah sebagai pembunuh yang sadis, kejam dan tak mengenal perikemanusiaan. Kalau ia konsekwen, seharusnya ia harus membenci dirinya sendiri, bahkan ia harus membunuh dirinya sendiri. Dan memang demikianlah akhirnya yang terjadi atas dirinya.
Pada suatu saat mencapai puncak kecapaian, Ramabargawa lalu istirahat. Ia duduk �ongkang-ongkang� sambil merenungi segala perbuatannya yang sadis itu. Di sinilah terjadi dialog yang dahsyat membentur-bentur dadanya, hampir-hampir ada serangan jantung menyerang dirinya. Ia mulai ragu-ragu dan skeptis atas tindakannya sendiri.
Pikirnya : �Kalau tindakanku ini benar, mestinya tidak lagi dilahirkan golongan satria. Tetapi kenyataannya, walaupun golongan satria sudah banyak yang kubunuh, tetapi toh sampai kini tetap dilahirkan satria, bahkan makin banyak jumlahnya. Kalau begitu mungkin akulah yang salah dan berdosa. Jadi kalau begitu sia-sia belaka pekerjaanku selama ini.�
Demikianlah ia mulai ragu. Pendek kata Ramabargawa mulai bimbang, ragu, dilemma, skeptis, putus asa, �nglokro�, murung, sesak nafas dan mulai ia terjangkit maag, sakit perut, psikosomatik, pening kepala, migraine, tekanan darah tinggi bahkan cholesterol naik sampai 400. Pendek kata terjadi komplikasi, baik dalam fisik maupun dalam mentalnya. Akhirnya ia membenci kepada dirinya sendiri.
Karena ia sudah terlanjur sumpah, bahwa hanya dapat mati oleh tangan Wisnu, maka ia berdiri sambil menyandang senjatanya menantang sejadi-jadinya berteriak mengumpat dan mengaum sebagai harimau lapar dan menghilang dalam kegelapan untuk mencari Wisnu. Ramabargawa ingin membunuh dirinya sendiri, ia mengembaara tak tahu tujuannya. Tak lama kemudian ia mendengar ada seorang raja Agung Binatara di Maespati, Harjuna Sasrabahu namanya. Prabu Harjuna Sasrabahu dipastikan olehnya sebagai penjelmaan Wisnu, karena Sang Raja mempunya ciri-ciri khas sebagai titisan Wisnu. Ia dapat tiwikrama menjadi Brahala, memiliki senjata cakra dan awas, waskita, tajam pandangannya (ngreti sakdurunge winarah), mengerti segala kejadian yang akan datang. Kalau sekarang orang semacam itu namanya �futuroloog�.
Dilain pihak Prabu Harjuna Sasrabahu pada saat itu juga sedang frustasi dilemma, bingung, tidak puas terhadap segala yang ia lihat ia rasakan dan ia alami. Ia telah jatuh dan tertimpa tangga. Karena Patih Sumantri yang ia sayangi telah gugur oleh Rahwana. Isterinya Dewi Citrawati yang ia cintai telah �nglalu� (bunuh diri) oleh tipu Kalamarica. Negara yang dibangunnya telah hancur lebur oleh bencana alam dan perang melawan Alengka. Ia pergi meninggalkan istana mencari mati. Oleh karena ia percaya bahwa hanya dapat mati oleh Wisnu, maka ia juga mencari Wisnu.
Secara lahiriah keputusan Harjuna Sasrabahu adalah suatu keputusan yang konyol. Namun apa yang hendak dikata. Itulah hidup. Harga, derajat dan semat kemuliaan serta kemewahan kadang kala membuat rasa bahagia, tetapi kenyataannya kalau salah penerapannya lebih banyak membawa malapetaka.
Suatu kenyataan, bahwa harta menyebabkan orang menjadi mentala (samapai hati) terhadap sesamanya, yang oleh filsuf Heidegger (Jerman) disebut � �Homo homini lupus�. Yaitu bahwa sesungguhnya manusia (kalau sudah sampai pada harta, wanita dan kedudukan) merupakan serigala bagi sesamanya. Pendek kata kini Ramabargawa dan Harjuna Sasrabahu �concruent� sama dan sebangun, yaitu sama-sama mencari mati. Yang satu Wisnu dan yang lain mencari Wisnu atau kedua-duanya mencari Wisnu, atau kedua-duanya sama-sama hanya manusia biasa, atau malahan Wisnu kedua-duanya. Jadi dengan demikian kedua-duanya sama-sama mencari dirinya sendiri, apakah itu mungkin? Mungkin sekali, karena Wisnu berada di dalam dirinya sendiri. Bukankah kitab suci mengajarkan : Barang siapa mengenal dirinya sendiri, niscaya mengenal �Tuhannya�.
Kalau demikian halnya, kita telah memulai memasuki wilayah mistik. Memang benar, bahwa perjalanan Ramabargawa dan Harjuna Sasrabahu mencari Wisnu itu melambangkan orang sedang menjalankan �laku� (tao/tarekat). Karena pada hakekatnya mistik adalah suatu cara berjalan dan beramal, untuk sampai berada dekat dan bersatu dengan Sang Penciptanya.
Apakah yang terjadi bila nanti Ramabargawa dan Harjuna Sasrabahu sudah bertemu?
Marilah kita ikuti cerita selanjutnya�..
IR. SRI MULYONO
YUDHA MINGGU, 29 AGUSTUS 1976
Baca Selengkapnya - HARJUNA SASRABAHU DAN RAMABARGAWA SAMA-SAMA MENCARI HARGA DIRI ATAU SEKEDAR PEMBENARAN DIRI

RADEN LESMANA MANDRAKUMARA

Raden Lesmana Mandrakumara, gambar ini diambil dari http://wayangku.files.wordpress.com/2008/07/raden-lesmana-mandrakumara.jpg


RADEN LESMANA MANDRAKUMARA

Raden Lesmana Mandrakumara adalah putra Prabu Duryudana di Hastinapura. Ia seorang kesatria agung yang kelak akan menggantikan kedudukan ayahnya. Tetapi ia tidak mempunyai kesaktian sama sekali, sehingga hidupnya senantiasa terhina.

Ia pernah hendak beristrikan Dewi Titisari, putri Sri Kresna, tetapi waktu pengantin akan dipertemukan, ia dipermainkan dan perkawinan itu batal. Dalam perang Baratayudha ia tewas ditangan Raden Angkawijaya.

BENTUK WAYANG

Raden Lesmana Mandrakumara bermata telengan perada. Berjamang dengan garuda membelakang besar, sunting waderan besar membelakang, rambut terurai udalan. Berkalung ulur-ulur, berpontoh dan berkeroncong. Berkain putra lengkap dengan bercelana cindai. Bentuk badan yang kendor dan bentuk mukanya tenang tetapi perlakunya pecicilan.
Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo. (Artikel ini diambil dari http://wayangku.wordpress.com/2008/12/26/raden-lesmana-mandrakumara/)
Baca Selengkapnya - RADEN LESMANA MANDRAKUMARA

Jumat, 28 Oktober 2011

RAMA PARASU

Ramaparasu/Parasurama, gambar ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Parasurama


Parasurama (Sanskerta:, ;Parashurama Bhargava) atau yang di Indonesia kadang disebut Ramaparasu, adalah nama seorang tokoh Ciranjiwin dalam ajaran agama Hindu. Secara harfiah, nama Parashurama bermakna "Rama yang bersenjata kapak". Nama lainnya adalah Bhargawa yang bermakna "keturunan Maharesi Bregu". Ia sendiri dikenal sebagai awatara Wisnu yang keenam dan hidup pada zaman Tretayuga. Pada zaman ini banyak kaum kesatria yang berperang satu sama lain sehingga menyebabkan kekacauan di dunia. Maka, Wisnu sebagai dewa pemelihara alam semesta lahir ke dunia sebagai seorang brahmana berwujud angker, yaitu Rama putra Jamadagni, untuk menumpas para kesatria tersebut.

Kisah masa muda

Parasurama merupakan putra bungsu Jamadagni, seorang resi keturunan Bregu. Itulah sebabnya ia pun terkenal dengan julukan Bhargawa. Sewaktu lahir Jamadagni memberi nama putranya itu Rama. Setelah dewasa, Rama pun terkenal dengan julukan Parasurama karena selalu membawa kapak sebagai senjatanya. Selain itu, Parasurama juga memiliki senjata lain berupa busur panah yang besar luar biasa.
Sewaktu muda Parasuama pernah membunuh ibunya sendiri, yang bernama Renuka. Hal itu disebabkan karena kesalahan Renuka dalam melayani kebutuhan Jamadagni sehingga menyebabkan suaminya itu marah. Jamadagni kemudian memerintahkan putra-putranya supaya membunuh ibu mereka tersebut. Ia menjanjikan akan mengabulkan apa pun permintaan mereka. Meskipun demikian, sebagai seorang anak, putra-putra Jamadagni, kecuali Parasurama, tidak ada yang bersedia melakukannya. Jamadagni semakin marah dan mengutuk mereka menjadi batu.
Parasurama sebagai putra termuda dan paling cerdas ternyata bersedia membunuh ibunya sendiri. Setelah kematian Renuka, ia pun mengajukan permintaan sesuai janji Jamadagni. Permintaan tersebut antara lain, Jamadagni harus menghidupkan dan menerima Renuka kembali, serta mengembalikan keempat kakaknya ke wujud manusia. Jamadagni pun merasa bangga dan memenuhi semua permintaan Parasurama.

Menumpas kaum kesatria

Pada zaman kehidupan Parasurama, ketenteraman dunia dikacaukan oleh ulah kaum kesatria yang gemar berperang satu sama lain. Parasurama pun bangkit menumpas mereka, yang seharusnya berperan sebagai pelindung kaum lemah. Tidak terhitung banyaknya kesatria, baik itu raja ataupun pangeran, yang tewas terkena kapak dan panah milik Rama putra Jamadagni.
Konon Parasurama bertekad untuk menumpas habis seluruh kesatria dari muka bumi. Ia bahkan dikisahkan telah mengelilingi dunia sampai tiga kali. Setelah merasa cukup, Parasurama pun mengadakan upacara pengorbanan suci di suatu tempat bernama Samantapancaka. Kelak pada zaman berikutnya, tempat tersebut terkenal dengan nama Kurukshetra dan dianggap sebagai tanah suci yang menjadi ajang perang saudara besar-besaran antara keluarga Pandawa dan Korawa.
Penyebab khusus mengapa Parasurama bertekad menumpas habis kaum kesatria adalah karena perbuatan raja Kerajaan Hehaya bernama Kartawirya Arjuna yang telah merampas sapi milik Jamadagni. Parasurama marah dan membunuh raja tersebut. Namun pada kesempatan berikutnya, anak-anak Kartawirya Arjuna membalas dendam dengan cara membunuh Jamadagni. Kematian Jamadagni inilah yang menambah besar rasa benci Parasurama kepada seluruh golongan kesatria.

Bertemu awatara Wisnu lainnya

Meskipun jumlah kesatria yang mati dibunuh Parasurama tidak terhitung banyaknya, namun tetap saja masih ada yang tersisa hidup. Antara lain dari Wangsa Surya yang berkuasa di Ayodhya, Kerajaan Kosala. Salah seorang keturunan wangsa tersebut adalah Sri Rama putra Dasarata. Pada suatu hari ia berhasil memenangkan sayembara di Kerajaan Mithila untuk memperebutkan Sita putri negeri tersebut. Sayembara yang digelar ialah yaitu membentangkan busur pusaka pemberian Siwa. Dari sekian banyak pelamar hanya Sri Rama yang mampu mengangkat, bahkan mematahkan busur tersebut.
Suara gemuruh akibat patahnya busur Siwa sampai terdengar oleh Parasurama di pertapaannya. Ia pun mendatangi istana Mithila untuk menantang Rama yang dianggapnya telah berbuat lancang. Sri Rama dengan lembut hati berhasil meredakan kemarahan Parasurama yang kemudian kembali pulang ke pertapaannya. Ini merupakan peristiwa bertemunya sesama awatara Wisnu, karena saat itu Wisnu telah menjelma kembali sebagai Rama sedangkan Parasurama sendiri masih hidup. Peran Parasurama sebagai awatara Wisnu saat itu telah berakhir namun sebagai seorang Ciranjiwin, ia hidup abadi.
Pada zaman Dwaparayuga Wisnu terlahir kembali sebagai Kresna putra Basudewa. Pada zaman tersebut Parasurama menjadi guru sepupu Kresna yang bernama Karna yang menyamar sebagai anak seorang brahmana. Setelah mengajarkan berbagai ilmu kesaktian, barulah Parasurama mengetahui kalau Karna berasal dari kaum kesatria. Ia pun mengutuk Karna akan lupa terhadap semua ilmu kesaktian yang pernah dipelajarinya pada saat pertempuran terakhirnya. Kutukan tersebut menjadi kenyataan ketika Karna berhadapan dengan adiknya sendiri, yang bernama Arjuna, dalam perang di Kurukshetra.
Parasurama diyakini masih hidup pada zaman sekarang. Konon saat ini ia sedang bertapa mengasingkan diri di puncak gunung, atau di dalam hutan belantara.

Versi Pewayangan

Parasurama juga ditampilkan sebagai tokoh dalam pewayangan. Antara lain di Jawa ia lebih terkenal dengan sebutan Ramabargawa. Selain itu ia juga sering dipanggil Jamadagni, sama dengan nama ayahnya.
Ciri khas pewayangan Jawa adalah jalinan silsilah yang saling berkaitan satu sama lain. Kisah-kisah tentang Ramabargawa yang bersumber dari naskah Serat Arjunasasrabahu antara lain menyebut tokoh ini sebagai keturunan Batara Surya. Ayahnya bernama Jamadagni merupakan sepupu dari Kartawirya raja Kerajaan Mahespati. Adapun Kartawirya adalah ayah dari Arjuna Sasrabahu alias Kartawirya Arjuna. Selain itu, Jamadagni juga memiliki sepupu jauh bernama Resi Gotama, ayah dari Subali dan Sugriwa.
Dalam pewayangan dikisahkan Ramabargawa menghukum mati ibunya sendiri, yaitu Renuka, atas perintah ayahnya. Penyebabnya ialah karena Renuka telah berselingkuh dengan Citrarata raja Kerajaan Martikawata. Peristiwa tersebut menyebabkan kemarahan dan rasa benci luar biasa Ramabargawa terhadap kaum kesatria.
Setelah menumpas kaum kesatria, Ramabargawa merasa jenuh dan memutuskan untuk meninggalkan dunia. Atas petunjuk dewata, ia akan mencapai surga apabila mati di tangan titisan Wisnu. Adapun Ramabargwa versi Jawa bukan titisan Wisnu. Sebaliknya, Wisnu dikisahkan menitis kepada Arjuna Sasrabahu yang menurut versi asli adalah musuh Ramabargawa.
Akhirnya, Ramabargawa berhasil menemui Arjuna Sasrabahu. Namun saat itu Arjuna Sasrabahu telah kehilangan semangat hidup setelah kematian sepupunya, yaitu Sumantri, dan istrinya, yaitu Citrawati, akibat ulah Rahwana raja Kerajaan Alengka yang pernah dikalahkannya. Dalam pertarungan tersebut, justru Ramabargawa yang berhasil menewaskan Arjuna Sasrabahu.
Ramabargawa kecewa dan menuduh dewata telah berbohong kepadanya. Batara Narada selaku utusan kahyangan menjelaskan bahwa Wisnu telah meninggalkan Arjuna Sasrabahu untuk terlahir kembali sebagai Rama putra Dasarata. Ramabargawa diminta bersabar untuk menunggu Rama dewasa. Beberapa tahun kemudian, Ramabargawa berhasil menemukan Rama yang sedang dalam perjalanan pulang setelah memenangkan sayembara Sinta. Ia pun menantang Rama bertarung. Dalam perang tanding tersebut, Ramabargawa akhirnya gugur dan naik ke kahyangan menjadi dewa, bergelar Batara Ramaparasu.
Pada zaman berikutnya, Ramaparasu bertemu awatara Wisnu lainnya, yaitu Kresna ketika dalam perjalanan sebagai duta perdamaian utusan para Pandawa menuju Kerajaan Hastina. Saat itu Ramaparasu bersama Batara Narada, Batara Kanwa, dan Batara Janaka menghadang kereta Kresna untuk ikut serta menuju Hastina sebagai saksi perundingan Kresna dengan pihak Korawa. Kisah ini terdapat dalam naskah Kakawin Bharatayuddha dari zaman Kerajaan Kadiri. (Artikel ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Parasurama).
Baca Selengkapnya - RAMA PARASU

RESI GOTAMA

Relief yang berjudul "Penebusan dosa Bhagiratha", terdapat di Mahabalipuram. Gambar diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Bhagiratha

Lukisan "Turunnya Gangga" karya Raja Ravi Varma. Gambar ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Bhagiratha




Bhagiratha

Dalam mitologi Hindu, Bhagiratha (Sanskerta: ; Bhagiratha) adalah nama seorang raja keturunan Ikswaku, putera Dilipa, yang memerintah Ayodhya sebelum masa pemerintahan dan kejayaan Dasarata, ayah Rama. Ia dikenal karena jasanya yang besar telah mengantarkan air Gangga ke muka bumi.

Latar belakang

Sebelum Bhagiratha naik tahta, raja pendahulunya selalu wafat dalam kesedihan. Hal itu dikarenakan roh para leluhur Bhagiratha tidak dapat beristirahat dengan tenang semenjak mereka tewas dengan mengenaskan karena terbakar oleh sorot mata Resi Kapila yang sedang marah. Saat meninggal, abu mereka tidak mendapatkan upacara kematian yang layak sehingga tidak dapat mencapai surga.
Saat Bhagiratha dilantik menjadi raja, Dilipa membeberkan masalah tersebut kepadanya. Dilipa mengatakan bahwa abu para leluhurnya harus disucikan dengan air Gangga. Setelah Bhagiratha tahu, ia bersumpah akan membawa air Gangga turun ke bumi. Akhirnya ia memutuskan untuk menurunkan air Gangga dari surga dengan cara melakukan penebusan dosa. Ia menitipkan kerajaan kepada para menterinya.

Pengorbanan Bhagiratha

Relief yang berjudul "Penebusan dosa Bhagiratha", terdapat di Mahabalipuram.Untuk memohon agar sungai Gangga turun ke bumi, Bhagiratha melakukan tapa dengan teguh. Ia menengadah ke langit dan makan hanya sebulan sekali. Dewa Brahma berkenan dengan pemujaan yang dilakukan oleh Bhagiratha dan mempersilakannya mengajukan permohonan. Akhirnya Bhagiratha memohon agar sungai Gangga turun dari surga. Brahma mengabulkan permohonan tersebut namun arus Gangga yang turun ke bumi sangat deras sehingga ada yang harus menahannya. Brahma kemudian menyuruh Bhagiratha agar melanjutkan tapanya dengan memuja Siwa.

Turunnya Gangga

Bhagiratha memuja Siwa dan memintanya agar bersedia menahan arus Gangga yang turun ke bumi. Karena berkenan dengan pengorbanan Bhagiratha, Siwa mengabulkan permohonan tersebut. Brahma menyuruh Gangga agar turun ke bumi. Dengan hati yang congkak, Gangga hendak menghanyutkan Siwa serta menyapu bumi dengan arus derasnya. Siwa tahu akan maksud Gangga tersebut, lalu ia membuka ikat rambutnya sehingga rambutnya yang panjang kusut tersebut terjulur bagaikan jaring yang sangat lebar, dan menjebak Gangga yang turun ke bumi. Dengan rambutnya, Siwa menampung air Gangga.

Mengeluarkan Gangga dari rambut Siwa

Setelah menjebak Gangga dengan rambutnya, Siwa melakukan meditasi yang sangat dalam. Hal itu membuat Bhagiratha tidak berani mengganggunya. Untuk mengeluarkan Gangga tanpa menimbulkan kemurkaan Siwa, Bhagiratha memohon kepada Parwati, istri Siwa, supaya diberi jalan keluar. Parwati memanggil kedua puteranya, yaitu Ganesa dan Kartikeya. Atas saran Ganesa, Bhagiratha meminta bantuan Resi Gotama sebab hanya dia yang dapat membuat Siwa terkesan. Ganesa, Bhagiratha dan Kartikeya menuju asrama Resi Gotama dengan menyamar sebagai kaum brahmana. Dengan kekuatan pikirannya, Ganesa membuat sapi di asrama tersebut menjadi gila. Mengetahui hal tersebut, sang resi memukul sapi tersebut hingga mati.
Setelah Resi Gotama membunuh seekor sapi, suasana asrama menjadi gempar sebab sang resi melakukan sebuah dosa besar. Ganesa menyarankan agar sang resi menyucikan dirinya dengan air Gangga yang terdapat di dalam rambut Siwa. Sang resi mematuhi saran tersebut, lalu ia memuja Siwa dan memberinya persembahan sehingga Siwa terkesan. Atas permintaan Resi Gotama, Siwa mengizinkan Gangga keluar dari rambutnya dengan memberikan suatu celah kecil. Air tersebut menyucikan sang resi.
Setelah air Gangga menyucikan Resi Gotama, Ganesa meminta ma'af kepada sang resi karena ia telah membuat sang resi melakukan kesalahan. Resi Gotama tersentuh dengan kejujuran Ganesa. Ia juga memberkati Bhagiratha setelah tahu bahwa raja tersebut telah membuat Gangga turun ke bumi. Artikel diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Bhagiratha


Baca Selengkapnya - RESI GOTAMA

Kamis, 27 Oktober 2011

RESI GOTAMA DALAM PEWAYANGAN JAWA

Gambar Resi Gotama diambil dari http://www.maztrie.blogspot.com




RESI GOTAMA DALAM PEWAYANGAN JAWA
RESI GOTAMA adalah seorang brahmana di pertapaan Dewasana (Grastina). Ia putra tunggal Resi Dewasana, putra sulung Bathara Dewanggana yang merupakan cucu buyut Bathara Surya. Resi Gotama bersaudara sepupu dengan Prabu Heriya, raja negara Maespati yang merupakan kakek Prabu Arjunasasrabahu , dan Resi Wisanggeni dari pertapaan Ardi Sekar yang merupakan kakek dari Bambang Sumantri dan Ramaparasu (Ramabargawa).



Resi Gotama sangat sakti dan termasyur dalam ilmi Kasidan. Resi Gotama menikah dengan Dewi Indradi/Windradi, seorang bidadari keturunan Bathara Asmara. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh tiga orang putra masing-masing bernama; Dewi Anjani, Subali/Guwarsi dan Sugriwa/Guwarsa. Malapetaka telah terjadi atas keluarganya akibat Cupumanik Astagina, milik Dewi Indradi sebagai hadiah perkawinan dari Bathara Surya. Cupu yang diberikan kepada Dewi Anjani menjadi perebutan dengan Subali dan Sugriwa. Dewi Indradi yang bersikap membisu tentang asal-usul Cupu tersebut, dikutuk oleh Resi Gotama menjadi tugu batu dan dibuang ke angkasa jatuh di wilayah negara Alengka.



Untuk keadilan Resi Gotama membuang Cupumanik Astagina ke udara untuk diperebutkan ketiga putranya. Cupu jatuh di hutan pecah menjadi dua buah telaga bernama telaga Sumala dan telaga Nirmala. Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa yang terjun ke dalam telaga Sumala berubah wujud menjadi kera. Untuk menebus kesalahan dan agar bisa kembali menjadi manusia. Resi Gotama menganjurkan ketiga putranya untuk pergi bertapa. Dewi Anjani bertapa nyantika (seperti katak) di telaga Madirda, Subali melakukan tapa ngalong (seperti kelelawar) dan Sugriwa melakukan tapa seperti kijang di hutan Sunyapringga.



Resi Gotama meninggal dalam usia lanjut, menyusul kematian Dewi Anjani yang baru saja melahirkan Anoman. Artikel ini diambil dari
http://maztrie.blogspot.com/2009/04/resi-gotama.html


Baca Selengkapnya - RESI GOTAMA DALAM PEWAYANGAN JAWA

Rabu, 26 Oktober 2011

CUPU MANIK ASTAGINA

Subali versi Solo, gambar diambil dari http://www.wayang.wordpress.com




CUPU MANIK ASTAGINA
Cupu merupakan suatu wadah berbentuk bundar, kecil biasanya terbuat dari kayu atau logam. Manik adalah batu permata. Dalam kisah Ramayana terdapat sebuah cupu manik yang cukup terkenal yaitu cupu manik astagina milik Dewi Indradi (dalam beberapa buku ditulis Dewi Windradi).
Sahdan Resi Gotama, seorang petapa sakti mandraguna ikut memadamkan kekacauan yang terjadi di khayangan tempat para dewa bersemayam karena adanya pemberontakan. Atas jasanya tersebut Resi Gotama diberi hadiah seorang bidadari untuk diperistri yaitu Dewi Indradi. Sebenarnya Dewi Indradi sudah punya kekasih dari kalangan dewa, yaitu Dewa Surya. Akan tetapi karena tetua para dewa sudah memutuskan Dewi Indradi menjadi istri Resi Gotama maka Dewa Surya menerima kenyataan. Sebelum Dewi Indradi dibawa kepertapaan Grastina di lereng Gunung Sukendra, Dewa Surya memberi hadiah cupu manik astagina sebagai kenang-kenangan kepada sang kekasih. Jika cupu itu dibuka maka dari maniknya akan terlihat gambaran semua isi dunia.
Resi Gotama adalah seorang petapa yang sangat tekun dalam melakukan tapa brata, sehingga istrinya sering kesepian ditinggal pergi bertapa. Di saat sendiri itulah Dewi Indradi melihat keindahan dunia lewat cupu manik astagina. Perkawinan mereka dikaruniai tiga anak yaitu Anjani, Subali dan Sugriwa. Sampai saat itu sang suami belum tahu keberadaan cupu manik.
Suatu ketika Anjani putri pertamanya memergoki sang ibu sedang memandang cupumaniknya. Dewi Indradi kaget keberadaannya ketahuan. Padahal ia sudah di pesan oleh Dewa Surya agar hati-hati dalam menggunakan cupu manik astagina tersebut. Jangan sembarangan membukanya apalagi sampai ketahuan orang lain walaupun itu suami atau anaknya sendiri. Saat itu Dewi Indradi benar-benar kesepian, sudah berminggu-minggu Resi Gotama menyepi di hutan memperdalam ilmunya yang sebenarnya sudah sangat tinggi. Sedangkan anak-anaknya mempunyai kegiatan sendiri-sendiri. Subali dan Sugriwa mewarisi bakat kepintaran ayahandanya dalam mempelajari ilmu-ilmu kesaktian, sedang memperdalam ilmunya dibawah bimbingan asisten-asisten Resi Gotama. Subali di bawah asuhan Jembawan, Sugriwo oleh Menda. Demikian juga Anjani selain mewarisi kecantikan kebidadarian ibundanya juga sangat cerdas dalam mempelajari ilmu-ilmu ayahandanya di bawah asuhan Endang Suwarsih.
Saat itu Anjani seharusnya belajar tapi ia sangat bosan kemudian pulang ke rumah. Di rumah Dewi Indradi juga sedang kesepian, maka diambilnya cupu manik astagina. Dibukanya cupu itu, dilihatnya isi dunia lewat gambaran yang terpancar dari manik yang bercahaya itu. Ia telusuri keadaan dunia satu sisi ke sisi lainnya. Keindahan gambaran dunia itu membuatnya lupa akan waktu dan keadaan sekitarnya. Sampai kehadiran Anjani tidak disadarinya. Tanpa sadar Anjani juga melihat kesaktian cupu manik milik ibunya dengan sangat takjub, heran dan kaget. Dewi Indradi juga kaget kegiatannya diketahui anaknya, padahal ia sudah dipesan Dewa Surya kekasihnya dimasa lalu agar tidak ada orang yang mengetahui keberadaan cupu tersebut.
Karena takjub Anjani ingin sekali memiliki cupu tersebut. Dewi Indradi karena kaget sudah ketahuan rahasianya mencari jalan keluarnya. Akhirnya dibuat kesepakatan cupu manik astagina diberikan kepada Anjani tetapi dengan perjanjian tidak boleh diketahui oleh orang lain. Anjani setuju, kemudian cupumanik astagina berpindah tangan. Hari berganti minggu Anjani masih bisa menjaga rahasianya. Minggu berganti bulan Anjani semakin ketagihan melihat gambaran keindahan dunia, maka sering-sering ia membukanya. Beberapa bulan kemudian Anjani sudah ketagihan untuk selalu membuka cupu dan melihat-lihat gambaran isi dunia dalam maniknya. Pelajaran dari Endang Suwarsih mulai dilalaikan.
Suatu saat Subali dan Sugriwo memergoki Anjani sedang membuka cupu maniknya. Betapa takjubnya mereka dengan keanehan benda tersebut, gambaran isi dunia bisa dilihatnya. Subali dan Sugriwo juga ingin memilikinya, menghadaplah ia kepada ayahandanya meminta cupu manik astagina juga. Resi Gotama memang sangat sakti, ilmunya sudah tinggi tapi belum bisa memciptakan benda yang bisa melihat isi dunia seperti itu. Ini pasti benda dari kayangan. Dipangilnya Dewi Indradi sebagai pihak yang pertama memilikinya. Betapa bingungnya hati Dewi Indradi ketika harus menjawab pertanyaan Resi Gotama darimana asal cupu manik astagina. Ia ingat pesan Dewa Surya. Rahasia itu bisa terungkap. Dewi Indradi tak kuasa menjawab, diam seribu basa. Resi Gotama semakin tak sabar menunggu jawaban istrinya. Dewi Indradi tetap rapat menutup mulutnya. �Istriku, kenapa kau diam seperti patung?� kata Resi Gotama. Kemudian Dewi Indradi menjadi patung.
Kemarahan Resi Gotama belum reda, maka dibuangnya cupu manik itu. Cupunya jatuh di sendang Nirmolo, sedangkan maniknya jatuh di sendang Sumolo. Karena ingin memilikinya ketiga anak Resi Gotama mengejar cupu manik itu. Subali dan Sugriwo yang melihat jatuhnya cupu ke sendang Nirmolo langsung menyelam mencarinya. Tidak ketemu. Saat keluar dari air wujud tampan keduanya berubah. Seluruh badannya keluar bulu, wajahnya berubah menjadi kera dan sebuah ekor menyembul. Betapa kaget keduanya atas apa yang menimpanya, merka pulang ke rumah menemui ayahandanya untuk di pulihkan. Penderitaan mereka berdua cukup panjang sampai nanti bertemu Sri Rama dan bertempur melawan Rakwana.
Anjani melihat manik yang dilempar ayahandanya jatuh di sendang Sumolo. Ia tidak berani menyelam untuk mengambil. Dari pingir kolam diulurkan tangannya untuk meraih manik tersebut. Masih kurang beberapa jengkal lagi, maka semakin dalam tangan diulurkan sampai wajahnya menyentuh air telaga. Seperti adik-adiknya yang berubah menjadi kera, tangan Anjani juga ditumbuhi bulu, serta wajahnya berubah menjadi kera. Penderitaan Anjanijuga sangat lama. Ia diminta melakukan tapa nyantolo atau berendam seperti kodok di sendang itu selama bertahun-tahun. Suatu saat Dewa Surya melihat punggung Anjani teringat ia pada Dewi Indradi, melalui sebuah ujung daun asam dikirimnya makanan kepada Anjani. Beberapa saat kemudian Anjani hamil. Daun asam namanya sinom, ketika bayi Anjani lahir diberinama Anoman yang juga berujud kera berbulu putih. Kera ini berumur sangat panjang dari masa jamannya Sri Rama dan Sinta sampai jaman Baratayuda. Setelah melahirkan wujud Anjani kembali cantik jelita dan karena tapanya yang sangat taat ia diangkat menjadi Dewi dan tinggal di kayangan.
Kisah Ramayana di tulis oleh Walmilki ribuan tahun yang lalu. Diperkirakan sekitar 400 tahun Sebelum Masehi. Yang menarik bagi saya adalah seolah-olah Walmiki memprediksi ribuan tahun ke depan akan ada sebuah benda kecil seperti cupu manik astagina yang mampu melihat isi dunia, yaitu internet. Cupu manik astagina itu, saat ini bisa berupa sebuah handphone yang bisa digengam dan dibawa kemana-mana. Juga bisa dibuka kapan saja. Yang perlu kita waspadai adalah nasehat Walmiki agar kita tidak sembarangan waktu dan tempat ketika membuka isi dunia itu. Jangan sampai nasib Anjani, Subali dan Sugriwa menimpa kita. Berubah menjadi kera-njingan. Artikel ini diambil dari http://sosbud.kompasiana.com/2010/06/16/cupu-manik/




Baca Selengkapnya - CUPU MANIK ASTAGINA

RADEN SUBALI

Raden subali, gambar ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Subali


Subali

Bali (Sanskerta: ????; Vali), atau yang di Indonesia lebih terkenal dengan sebutan Subali, adalah nama seorang raja Wanara dalam wiracarita Ramayana. Ia merupakan kakak dari Sugriwa, sekutu Sri Rama. Ketika terjadi perselisihan antara kedua Wanara bersaudara itu, Rama berada di pihak Sugriwa. Subali akhirnya tewas di tangan pangeran dari Ayodhya tersebut.
Subali juga dikenal dalam dunia pewayangan Jawa sebagai seorang pendeta Wanara berdarah putih yang tinggal di puncak Gunung Sunyapringga. Ia memiliki Aji Pancasunya (di daerah Sunda disebut Pancasona) yang membuatnya tidak bisa mati. Ilmu kesaktian tersebut diwariskannya kepada Rahwana, musuh besar Rama.

Asal-usul

Nama Subali berasal dari kata bala, yang dalam bahasa Sansekerta bermakna "rambut". Konon ia dilahirkan melalui rambut ibunya, sehingga diberi nama Bali atau Subali. Setelah dewasa, Subali menjadi raja bangsa Wanara di Kerajaan Kiskenda, sedangkan Sugriwa bertindak sebagai wakilnya.
Menurut versi Ramayana, Subali dan Sugriwa adalah sepasang Wanara kembar yang dilahirkan oleh seorang ibu, tetapi berbeda ayah. Keduanya sama-sama putra dewa. Subali adalah putra Indra, sedangkan Sugriwa merupakan putra Surya.
Berbeda dengan versi aslinya, dalam pewayangan Jawa, Subali dan Sugriwa pada mulanya terlahir sebagai manusia normal. Keduanya masing-masing bernama Guwarsi dan Guwarsa. Mereka memiliki kakak perempuan bernama Anjani. Ketiganya merupakan anak Resi Gotama dan Dewi Indradi yang tinggal di Pertapaan Agrastina.
Pada suatu hari Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa berselisih memperebutkan cupu milik ibu mereka yang luar biasa indahnya. Hal itu diketahui oleh Gotama. Indradi pun dipanggil dan ditanya dari mana cupu tersebut berasal. Gotama sebenarnya mengetahui kalau cupu itu adalah benda kahyangan milik Batara Surya yang bernama Cupumanik Astagina. Indradi yang ketakutan diam tak mau menjawab. Gotama yang marah karena merasa dikhianati mengutuk istrinya itu menjadi tugu. Ia lalu melemparkan tugu tersebut sejauh-jauhnya, sampai jatuh di perbatasan Kerajaan Alengka.
Meskipun kehilangan ibu, ketiga anak Gotama tetap saja memperebutkan Cupu Astagina. Gotama pun membuang benda itu jauh-jauh. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Cupu Astagina jatuh di sebuah tanah kosong dan berubah menjadi telaga. Guwarsi dan Guwarsa begitu sampai di dekat telaga itu segera menceburkan diri karena mengira cupu yang mereka cari jatuh ke dalamnya. Seketika itu juga wujud keduanya berubah menjadi wanara atau kera. Sementara itu Anjani yang baru tiba merasa kepanasan. Ia pun mencuci muka menggunakan air telaga tersebut. Akibatnya, wajah dan lengannya berubah menjadi wajah dan lengan kera.
Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa menghadap Gotama dengan perasaan sedih. Ketiganya pun diperintahkan untuk bertapa mensucikan diri. Anjani bertapa di Telaga Madirda. Kelak ia bertemu Batara Guru dan memperoleh seorang putra bernama Hanoman. Sementara itu Guwarsi dan Guwarsa yang telah berganti nama menjadi Subali dan Sugriwa masing-masing bertapa di Gunung dan Hutan Sunyapringga. Ketiga anak Gotama tersebut berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Sesuai petunjuk ayah mereka, Anjani bertapa dengan gaya berendam telanjang seperti seekor katak, Subali menggantung di dahan pohon seperti seekor kelelawar, sedangkan Sugriwa mengangkat sebelah kakinya seperti seekor kijang.

Penggabungan silsilah

Versi pewayangan Jawa yang bersumber dari naskah Serat Arjunasasrabahu, sebagaimana yang telah diceritakan di atas, rupanya telah menggabungkan silsilah beberapa tokoh dalam Ramayana.
Menurut versi Ramayana, antara Subali-Sugriwa dengan Anjani, Hanoman dan Gotama tidak memiliki hubungan keluarga. Anjani adalah istri Kesari, seorang raja Wanara. Ia mendapatkan titipan janin dari Bayu sang dewa angin, yang setelah lahir diberi nama Hanoman. Hanoman kemudian berguru kepada Surya, dewa matahari. Setelah tamat, ia ditugaskan menjadi pengawal putra gurunya yang bernama Sugriwa, saudara kembar Subali.
Sementara itu, Gotama versi Ramayana adalah seorang pertapa yang tidak memiliki sangkut paut dengan Subali. Menurut versi ini, Gotama memiliki istri bernama Ahalya, yang kecantikannya membuat Dewa Indra terpikat. Dengan bantuan Surya, Indra pun menyamar sebagai Gotama untuk bisa mendekati Ahalya. Hal itu akhirnya diketahui oleh Gotama. Indra dan Surya melarikan diri, sedangkan Ahalya dikutuk oleh suaminya tersebut menjadi batu.

Perkawinan

Subali memiliki seorang istri bernama Tara. Dari perkawinan tersebut lahir seorang putra bernama Anggada, yang kelak banyak berjasa dalam membantu Sri Rama melawan Rahwana.
Menurut versi pewayangan Jawa, pada mulanya Tara bukanlah istri Subali, melainkan istri Sugriwa. Ketika kedua wanara bersaudara itu bertapa untuk mensucikan diri sesuai petunjuk ayah mereka, datang Batara Narada yang diutus Batara Guru untuk meminta bantuan dalam menumpas musuh kahyangan, bernama Mahesasura raja Guakiskenda. Subali dan Sugriwa pun berangkat. Subali masuk ke dalam istana Kiskennda yang terletak di dalam gua. Ia berpesan jika kelak mengalir darah merah ke luar gua, berarti Mahesasura tewas. Namun jika yang mengalir darah putih berarti dirinya yang tewas. Apabila Subali terbunuh, Sugriwa diminta untuk segera menutup pintu gua dengan batu besar.
Subali pun masuk ke dalam gua di mana terdapat istana Kiskenda yang sangat indah. Di sana ia bertempur melawan Mahesasura yang dibantu kedua pengawalnya bernama Lembusura dan Jatasura. Ketiganya tewas dengan kepala pecah. Darah dan otak mereka mengalir keluar gua. Sugriwa di luar mengira yang mengalir adalah darah merah dan darah putih. Dengan sedih ia menutup pintu gua lalu melapor ke kahyangan. Karena Mahesasura telah mati, sebagai hadiah, Sugriwa pun memperoleh seorang bidadari bernama Tara putri Batara Indra.
Di tengah jalan Sugriwa dan Tara dihadang Subali yang ternyata masih hidup. Subali menuduh adiknya itu berkhianat. Sugriwa pun dihajarnya tanpa ampun. Narada turun melerai dan mengisahkan apa yang sebenarnya terjadi. Subali sadar dan minta maaf. Ia merelakan Tara menjadi istri Sugriwa serta menyerahkan takhta Kiskenda peninggalan Mahesasura kepada adiknya itu. Subali memilih menjadi pertapa di Gunung Sunyapringga. Atas jasanya membunuh Mahesasura, Batara Guru memberinya anugerah dalam bentuk lain, yaitu ilmu kesaktian yang bisa membuatnya tidak bisa mati, bernama Aji Pancasunya (di daerah Sunda disebut Aji Pancasona).

Hubungan dengan Rahwana

Lukisan dari India yang dibuat sekitar abad ke-18, menggambarkan persekutuan Rama dan Sugriwa sampai dengan terbunuhnya Subali.
Versi Ramayana mengisahkan, Subali bersahabat dengan Rahwana raja bangsa Rakshasa dari Kerajaan Alengka. Pada mulanya mereka sempat berkelahi karena Rahwana datang untuk menaklukkan Kerajaan Kiskenda. Namun dalam pertarungan tersebut Rahwana kalah. Subali mengampuninya dan menjadikannya teman.
Versi pewayangan Jawa bahkan mengisahkan Rahwana kemudian berguru kepada Subali. Rahwana yang pandai bersandiwara berhasil meyakinkan Subali bahwa dirinya telah bertobat. Subali pun mengajarkan Aji Pancasunya kepadanya. Ia juga selalu menasihati Rahwana supaya menggunakan ilmu tersebut di jalan kebenaran.
Rahwana yang telah memperoleh ilmu baru berniat melanjutkan aksinya untuk menguasai dunia. Terlebih dahulu ia berusaha menyingkirkan Subali yang dianggapnya sebagai penghalang. Ia pun mengirim pembantunya yang bernama Marica untuk menyamar sebagai pelayan Tara. Pelayan palsu jelmaan Marica itu datang dan melapor kepada Subali bahwa Tara setiap hari disiksa Sugriwa. Konon Sugriwa juga mengungkit-ungkit nama Subali setiap kali menyiksa Tara. Subali marah mendengar laporan tersebut. Ia pun mendatangi Sugriwa di Kiskenda. Sugriwa dihajar tanpa ampun. Tubuhnya dilemparkan sampai jatuh dan terjepit di sepasang pohon asam kembar di puncak Gunung Reksyamuka. Subali kemudian menetap di Kerajaan Kiskenda serta menikahi Tara. Dari perkawinan itu kemudian lahir Anggada.

Perselisihan dengan Sugriwa

Kisah perselisihan Subali dan Sugriwa menurut versi pewayangan Jawa di atas agak berbeda dengan versi aslinya. Menurut versi Ramayana, sejak awal Subali sudah menjadi raja di Kerajaan Kiskenda. Kemudian datang seorang Rakshasa bernama Dundubi yang manantangnya adu kesaktian. Dalam pertarungan itu Dundubi berhasil dikalahkan. Ia melarikan diri sampai ke Gunung Reksyamuka tempat pertapaan Resi Matangga. Di pertapaan itu Subali membunuh Dundubi. Resi Matangga marah karena pertapaannya dikotori. Ia pun mengutuk Subali akan mati jika berani menginjakkan kaki di Gunung Reksyamuka.
Subali kemudian bertemu saudara Dundubi yang bernama Mayawi. Keduanya pun bertarung. Mayawi kalah dan melarikan diri ke dalam gua. Subali terus mengejarnya. Sugriwa ikut mengejar namun menunggu di luar gua. Ia mendengar suara raungan kakaknya dan melihat darah mengalir keluar gua. Sugriwa sedih dan mengira Subali telah tewas. Sugriwa kembali ke Kiskenda dan didesak rakyatnya untuk menjadi raja baru menggantikan Subali. Tiba-tiba Subali muncul dengan penuh rasa marah. Ternyata yang tewas adalah Mayawi, bukan dirinya. Ia pun menghajar Sugriwa sedemikian rupa. Sugriwa yang ketakutan melarikan diri ke Gunung Reksyamuka, di mana Subali tidak berani mengejarnya.

Kematian

Subali terbunuh di tangan Rama. Sebuah lukisan dari India, dibuat pada zaman kekaisaran Mughal, sekitar abad ke-16.
Sugriwa bersembunyi di Gunung Reksyamuka ditemani Hanoman yang setia kepadanya. Hanoman berhasil mempertemukan Sugriwa dengan Sri Rama, seorang pangeran dari Ayodhya yang kehilangan istri karena diculik oleh Rahwana. Keduanya pun mengadakan kesepakatan. Rama akan membantu Sugriwa memperoleh kembali takhta Kiskenda, sedangkan Sugriwa berjanji akan membantu Rama menyerang negeri Rahwana.
Sesuai rencana, Sugriwa pun datang ke istana Kiskenda untuk menantang Subali bertanding. Subali yang marah hendak menghadapi Sugriwa, namun dicegah oleh Tara, istrinya. Tara mencurigai Sugriwa yang dulu pernah kalah tapi kini tiba-tiba berani datang untuk menantang bertarung. Namun Subali tidak menghiraukan nasihat istrinya itu. Ia memilih keluar untuk melayani tantangan adiknya. Antara Subali dan Sugriwa pun segera terjadi pertarungan sengit. Dari kejauhan, Rama yang ditemani adiknya, Laksmana, serta Hanoman, membidikkan panah ke arah Subali. Namun ia merasa bingung membedakan kedua Wanara kembar tersebut. Sugriwa yang kewalahan memilih melarikan diri. Rama datang menemui Sugriwa yang marah-marah karena merasa dikhianati. Rama mengaku bingung dan takut salah menyerang. Sugriwa pun dimintanya menantang Subali sekali lagi dengan mengenakan kalung untaian bunga sebagai penanda (dalam pewayangan Sugriwa diminta memakai kalung janur kuning).
Sugriwa kembali bertarung melawan Subali. Saat Sugriwa terdesak untuk yang kedua kalinya, Rama muncul dan melepaskan panahnya ke dada Subali. Subali pun roboh tak sempat menghindar. Subali yang sekarat dalam keadaan marah menghina Rama sebagai kesatria pengecut yang tidak tahu dharma. Mendengar penghinaan itu, Rama menjelaskan bahwa Subali sebenarnya telah berdosa, karena apabila masih suci, panah sakti milik Rama tidak akan mampu menembus kulitnya, bahkan senjata tersebut akan berbalik menyerang Rama. Setelah mendengar penjelasan yang panjang lebar dari Rama, Subali menyadari dosa-dosa dan kesalahannya kepada Sugriwa. Ia pun meminta maaf dan meminta agar Sugriwa merawat putranya yang bernama Anggada dengan baik. Subali juga merestui Sugriwa menjadi raja Kiskenda. Setelah itu, ia pun akhirnya meninggal dunia.
Menurut versi pewayangan, meskipun Subali memiliki Aji Pancasunya, namun saat itu ajalnya telah ditentukan oleh dewata. Oleh karena itu, ilmu tersebut sudah tidak berfungsi lagi sebagaimana biasanya.

Reinkarnasi Subali

Menurut susastra Hindu, karena Rama telah membunuh Subali, maka Subali pun bereinkarnasi dan membunuh inkarnasi Wisnu pada kehidupan selanjutnya. Konon atma Subali terlahir kembali sebagai seorang pemburu bernama Jara pada zaman Dwapara Yuga. Tokoh Jara inilah yang kemudian membunuh awatara Wisnu pada zaman tersebut, yaitu Sri Kresna meskipun tanpa sengaja. Setelah Jara melepaskan panahnya dan melukai kaki Kresna, Kresna pun moksa dan kembali ke Waikuntha.
Artikel ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Subali
Baca Selengkapnya - RADEN SUBALI

Selasa, 25 Oktober 2011

GAMBAR MAHESASURA

Baca Selengkapnya - GAMBAR MAHESASURA

JATASURA

Jatasura, diambil dari http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://wayang.files.wordpress.com/2010/03/jatasura.jpg%3Fw%3D430%26h%3D442&imgrefurl=http://wayang.wordpress.com/2010/03/14/jatasura/&usg=__u4jzUDEiZ7E6VhPNANETGQ61PLQ=&h=442&w=430&sz=94&hl=id&start=0&sig2=g772FAjB5Xt49OkyDtDquQ&zoom=1&tbnid=bz5jCxdnExwJTM:&tbnh=142&tbnw=138&ei=-3yBTKD1PImWvAPf89XrCQ&prev=/images%3Fq%3Djatasura%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DG%26gbv%3D2%26biw%3D1280%26bih%3D576%26tbs%3Disch:1&um=1&itbs=1&iact=hc&vpx=276&vpy=62&dur=430&hovh=228&hovw=221&tx=131&ty=131&oei=-3yBTKD1PImWvAPf89XrCQ&esq=1&page=1&ndsp=21&......




JATASURA
Jatasura berwujud harimau yang mempunyai rambut di lehernya. Karena ketekunannya bertapa, ia menjadi sangat sakti dan dapat mengerti bahasa manusia. Jatasura mempunyai saudara sepeguruan bernama Maesasura, raksasa berkepala kerbau. Ketika Maesasura menjadi raja di negara Gowa Kiskenda, Jatasura diangkat menjadi senapati perangnya, disamping patih Lembusura (raksasa berkepala sapi) dan Diradasura (raksasa berkepala gajah).



Sebagai saudara seperguruan, Jatasura dan Maesasura hidup dalam satu jiwa. Artinya bila salah satu diantara mereka mati dan dilangkai oleh yang masih hidup, maka yang mati akan hidup kembali. Karena kesaktiannya tersebut, Jatasura sangat mendukung keinginan Prabu Maesasura untuk memperistri Dewi Tara, bidadari Suralaya putri Sanghyang Indra dari permaisuri Dewi Wiyati. Ketika lamarannya ditolak Bathara Guru., mereka mengamuk di Suralaya dan berhasil mengalahkan para dewa.
Bathara Guru kemudian meminta bantuan Subali dan Sugriwa, putra Resi Gotama dengan Dewi Windradi/Indradi dari pertapaan Erraya/Grastina yang sedang bertapa di hutan Sunyapringga. Jatasura dan Maesasura akhirnya mati sampyuh, kepala mereka diadu kumba hingga pecah oleh Resi Subali yang memiliki Aji Pancasona. (artkel ini diambil dari http://wayang.wordpress.com/2010/03/14/jatasura/..)


Baca Selengkapnya - JATASURA